pendidikan agama kristen "moralitas"
BAB I
PENDAHULUAN
Latar
Belakang
Globalisasi telah menimbulkan pengaruh yang sangat luas dalam
dimensi masyarakat. Malcolm Waters mengatakan bahwa ada tiga dimensi proses
globalisasi yaitu globalisasi ekonomi, politik, dan budaya. Globalisasi yang merupakan
universalisasi nilai-nilai menyebabkan kearifan lokal menjadi luntur.
Hal ini menyangkut dengan moral bangsa yang akan terpengaruh
dengan moral luar, tentunya akan lebih kuat mempengaruhi karena dalam
globalisasi negara-negara majulah yang akan menguasai. Mahasiswa adalah sosok
warga negara yang memiliki tanggung jawab penuh, akan dibawa ke mana negeri ini
untuk berlari. Apakah menuju kebangkitan yang saat ini begitu santer digalakkan
atau justru menuju keterpurukan. Analisis dari kebangkitan dan keterpurukan di
masa depan, berkaitan erat dengan kondisi agent of change saat ini. Agent
of change yang dimaksud adalah para mahasiswa.
Moralitas mahasiswa merupakan unsur penting dalam proses,
sejauh mana mahasiswa berperan pada pembangunan untuk menyambut kebangkitan.
Moralitas dalam kajian ini tidak hanya berkaitan dengan salah satu nilai religi
saja, melainkan secara umum.
PERUMUSAN
MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah, maka masalah “Moralitas”
dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Jelaskan pengertian moral
secara umum?
2. Jelaskan pengertian moral
dalam kekristenan?
3. Jelaskan apa yang di maksud
moralitas kemahasiswaan?
4. Jelaskan apa yang di maksud
perkembangan moralitas remaja?
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN
MORAL SECARA UMUM
Kata Moral berasal dari kata latin “mos” yang
berarti kebiasaan. Moral berasal dari Bahasa Latin yaitu Moralitas
adalah istilah manusia menyebut ke manusia atau orang lainnya dalam
tindakan yang mempunyai nilai positif. Manusia yang tidak memiliki moral
disebut amoral artinya dia tidak bermoral dan tidak memiliki nilai positif di
mata manusia lainnya. Sehingga moral adalah hal mutlak yang harus dimiliki oleh
manusia. Moral secara ekplisit adalah hal-hal yang berhubungan dengan proses
sosialisasi individu tanpa moral manusia tidak bisa melakukan
proses sosialisasi. Moral dalam zaman sekarang mempunyai nilai
implisit karena banyak orang yang mempunyai moral atau sikap amoral itu dari
sudut pandang yang sempit. Moral itu sifat dasar yang diajarkan di sekolah-sekolah
dan manusia harus mempunyai moral jika ia ingin dihormati oleh sesamanya. Moral
adalah nilai ke-absolutan dalam kehidupan bermasyarakat secara utuh. Penilaian
terhadap moral diukur dari kebudayaan masyarakat setempat. Moral adalah
perbuatan/tingkah laku/ucapan seseorang dalam berinteraksi dengan manusia.
apabila yang dilakukan seseorang itu sesuai dengan nilai rasa yang berlaku di
masyarakat tersebut dan dapat diterima serta menyenangkan lingkungan
masyarakatnya, maka orang itu dinilai mempunyai moral yang baik, begitu juga
sebaliknya. Moral adalah produk dari budaya dan Agama. Moral juga dapat
diartikan sebagai sikap, perilaku, tindakan, kelakuan yang dilakukan seseorang
pada saat mencoba melakukan sesuatu berdasarkan pengalaman, tafsiran, suara
hati, serta nasihat, dll.
Menurut Immanuel Kant, moralitas adalah hal kenyakinan dan
sikap batin dan bukan hal sekedar penyesuaian dengan aturan dari luar, entah
itu aturan hukum negara, agama atau adat-istiadat. Selanjutnya dikatakan bahwa,
kriteria mutu moral seseorang adalah hal kesetiaannya pada hatinya
sendiri. Moralitas adalah pelaksanaan kewajiban karena hormat terhadap
hukum, sedangkan hukum itu sendiri tertulis dalam hati manusia. Dengan kata
lain, moralitas adalah tekad untuk mengikuti apa yang dalam hati disadari
sebagai kewajiban mutlak.
Adapun
pengertian moral dalam kamus filsafat dapat dijabarkan sebagai berikut:
a. Menyangkut
kegiatan-kegiatan yang dipandang baik atau buruk, benar atau salah, tepat atau
tidak tepat.
b. Sesuai
dengan kaidah-kaidah yang diterima, menyangkut apa yang dianggap benar, baik,
adil dan pantas.
c. Memiliki:
·
Kemampuan untuk diarahkan oleh (dipengaruhi
oleh) keinsyafan benar atau salah.
·
Kemampuan untuk mengarahkan (mempengaruhi) orang
lain sesuai dengan kaidah-kaidah perilaku nilai benar dan salah.
d. Menyangkut
cara seseorang bertingkah laku dalam berhubungan dengan orang lain.
B. PENGERTIAN
MORAL DALAM KEKRISTENAN
Dalam Kristen, moralitas diartikan sebagai suatu upaya
filosofi untuk tetap dapat memelihara keberlangsungan hidup kemanusiaan itu
sendiri atau lebih mudahnya upaya untuk manusia membenarkan diri tanpa Kristus
Yesus, Tuhan dan Juruselamat manusia yang mempesonakan itu.
Dimulai
dari kejatuhan Adam dan Hawa, dimana manusia memiliki inisiatif atas
keberdosaannya
·
Kejadian 3 : 7 Maka terbukalah mata mereka
berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon
ara dan membuat cawat.
·
Kejadian 3 : 8 Ketika mereka mendengar bunyi
langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk,
bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara
pohon-pohonan dalam taman.
Manusia
menyembunyikan diri dari hadapan Allah
·
Kejadian 3 : 9 Tetapi TUHAN Allah memanggil
manusia itu dan berfirman kepadanya: "Di manakah engkau?"
Manusia
bersembunyi dalam keberdosaannya dan berargumen denga Tuhan Allah karena takut
akan kebenaran tuha Allah dan selalu permisif atau selalu beralasan”exuse”.
·
Kejadian 3 : 10 Ia menjawab: "Ketika aku
mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku
telanjang; sebab itu aku bersembunyi."
Manusia
merasa tidak bersalah, merasa semua ini salah Tuhan Allah.
·
Kejadian 3 : 12 Manusia itu menjawab:
"Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah
pohon itu kepadaku, maka kumakan."
Manusia
yang egosentris
·
Kejadian 4 : 9 Firman TUHAN kepada Kain:
"Di mana Habel, adikmu itu?" Jawabnya: "Aku tidak tahu! Apakah
aku penjaga adikku?"
Manusia
yang cenderung menurunkan standar Allah.
·
Kejadian 4 : 13 Kata Kain kepada TUHAN:
"Hukumanku itu lebih besar dari pada yang dapat kutanggung.
Manusia
angkuh terhadap kasih karunia Allah.
·
Kejadian 4 : 24 sebab jika Kain harus dibalaskan
tujuh kali lipat, maka Lamekh tujuh puluh tujuh kali lipat."
·
Kejadian 11 : 2 Maka berangkatlah mereka ke
sebelah timur dan menjumpai tanah datar di tanah Sinear, lalu menetaplah mereka
di sana.
·
Kejadian 11 : 3 Mereka berkata seorang kepada
yang lain: "Marilah kita membuat batu bata dan membakarnya
baik-baik." Lalu bata itulah dipakai mereka sebagai batu dan ter gala-gala
sebagai tanah liat.
Manusia
yang cenderung memikirkan kebaikannya tanpa melibatkan Tuhan Allah, melawan
perintah Tuhan Allah
·
Kejadian 11 : 4 Juga kata mereka: "Marilah
kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai
ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh
bumi."
C. MORALITAS
KEMAHASISWAAN
Mahasiswa adalah sosok warga negara yang memiliki tanggung
jawab penuh, akan dibawa ke mana negeri ini untuk berlari. Apakah menuju
kebangkitan yang saat ini begitu santer digalakkan atau justru menuju
keterpurukan. Analisis dari kebangkitan dan keterpurukan di masa depan,
berkaitan erat dengan kondisi agent of change saat ini. Agent of change yang
dimak-sud adalah para mahasiswa.
Moralitas mahasiswa merupakan unsur penting dalam proses,
sejauh mana mahasiswa berperan pada pembangunan untuk menyambut kebangkitan.
Moralitas dalam kajian ini tidak hanya berkaitan dengan salah satu nilai religi
saja, melainkan secara umum.Untuk itu, dalam mengaplikasikan nilai-nilai moral
muncul pertanyaan, apa sebenarnya moral itu, apa yang menyebabkan kemerosotan
moral, bagaimanakah kondisi kemerosotan moral mahasiswa di Indonesia saat ini,
dan bagaimana cara memperbaiki dan menjaga moral mahasiswa.
Pendidikan moral dan pengembangan diri di perguruan tinggi
sangat penting bagi para mahasiswa, tetapi tidak bisa memperbaiki moralitas
mahasiswa secara langung. Yang bisa diupayakan adalah membuat mahasiswa
berpikir secara rasional dan menjadi kritis terhadap nilai-nilai moral yang
diyakininya. Sebagai contoh, sejak kecil kita di-larang oleh orang tua untuk
tidak mencuri. Setiap kali ditanya kenapa tidak boleh mencuri, kita akan
menjawab karena dilarang oleh orang tua. Setelah kita beranjak dewasa, jawaban
kita terhadap pertanyaan yang sama mengapa kita tidak boleh mencuri, tentu akan
berbeda. Sebagai orang yang dewasa, selayaknya kita harus menjawab, kita tidak
boleh mencuri karena itu mengambil hak milik orang lain. Kita harus menghormati
hak milik orang lain.
Pendidikan moral di kampus berpengaruh besar bagi
perkembangan moral mahasiswa, meskipun tidak dapat mengubah atau memperbaiki
secara langsung, tetapi paling tidak dapat menjadikan mahasiswa lebih kritis
terhadap segala macam lembaga-lembaga normatif. Selain itu, dengan pendidikan
moral diharapkan mahasiswa mempunyai pegangan yang teguh, tentang nilai-nilai
moral utamanya dalam menampaki kehidupan semakin kompleks dewasa ini.
Upaya
membangun bangsayang besar tak cukup dengan menggunakan kepintaran, tetapi
moral dan etika. Perguruan tinggi seharusnya ikut memainkan peran, dalam
pengembangan moral dan etika bagi lulusannya. Tak mudah bicara moral dan etika
saat ini, jika semua orang berbicara tentang makelar kasus (markus) pajak
berinisial GT. Masalah ini mencuat, karena kejahatan itu dilakukan oleh searang
sarjana yang pintar.
Sulitnya, pelanggar etika dan moral tidak bisa dihukum
penjara, tetapi hanya mendapat "hukuman" dari masyarakat berupa rasa
malu. Oleh karena itu, dalam suatu bangsa yang besar, harusnya para alumni,
sebagai komunitas yang dinilai tinggi karena berpendidikan, tetap menjaga etika
yang tercermin dalam sikap sehari-hari.Setiap insan perguruan tinggi harus
mampu mengedepankan aspek etika dan moralitas.
Secara moralitas, mahasiswa harus mampu bersikap dan
bertindak lebih baik dari yang lainnya, karena mereka mempunyai latar belakang
sebagai kaum intelektual. Mahasiswa harus berani mengatakan yang benar itu
adalah benar dengan penuh kejujuran, keberanian, dan rendah hati. Mahasiswa
juga dituntut untuk peka terhadap lingkungan sekitarnya dan terbuka kepada
siapa saja. Hal itu semata-mata karena mereka adalah kader-kader calon pemimpin
bangsa di masa akan datang, yang memegang kendali negara pada masa depan. Dan,
ingat, moralitas semacam itu harus terus muncul, dikala mahasiswa sudah lulus
dan terjun ke masyarakat.
D. PERKEMBANGAN
MORAL REMAJA
Fase remaja merupakan segmen
perkembangan individu yang sangat penting, yang diawali dengan matangnya
organ-organ fisik (seksual) sehingga mampu berproduksi. Remaja diharapkan
mengganti konsep-konsep moral yang berlaku umum dan merumuskannya ke dalam kode
moral yang akan berfungsi sebagai pedoman bagi perilakunya. Tidak kalah
pentingnya, sekarang remaja harus mengendalikan perilakunya sendiri, yang
sebelumnya menjadi tanggung jawab orang tua dan guru. Kami telah meringkaskan
lima perubahan dasar dalam moral yang harus dilakukan oleh remaja yaitu:
1. Pandangan moral individu semakin lama semakin menjadi lebih
abstrak dan kurang konkret.
2. Keyakinan moral lebih berpusat pada apa yang benar dan
kurang pada apa yang salah. Keadilan muncul sebagai kekuatan moral yang
dominan.
3. Penilaian moral menjadi semakin kognitif. Ia mendorong
remaja lebih berani menganalisis kode sosial dan kode pribadi dari pada masa
anak-anak dan berani mengambil keputusan terhadap berbagai masalah moral yang
dihadapinya.
4. Penilaian moral menjadi kurang egosentris.
5. Penilaian moral secara psikologis menjadi lebih mahal dalam
arti bahwa penilaian moral merupakan bahan emosi dan menimbulkan ketegangan
psikologis.
Pada masa remaja, laki-laki dan
perempuan telah mencapai apa yang oleh Piaget disebut tahap pelaksanaan formal
dalam kemampuan kognitif. Sekarang remaja mampu mempertimbangkan semua
kemungkinan untuk menyelesaikan suatu masalah dan mempertanggungjawabkannya
berdasarkan suatu hipotesis atau proporsi. Jadi ia dapat memandang masalahnya
dari berbagai sisi dan menyelesaikannya dengan mengambil banyak faktor sebagai dasar
pertimbangan.
Menurut Kohlberg, tahap perkembangan moral ketiga, moral
moralitas pascakonvensional harus dicapai selama masa remaja. Tahap ini
merupakan tahap menerima sendiri sejumlah prinsip dan terdiri dari dua tahap.
Dalam tahap pertama individu yakin bahwa harus ada kelenturan dalam keyakinan
moral sehingga dimungkinkan adanya perbaikan dan perubahan standar apabila hal
ini menguntungkan anggota-anggota kelompok secara keseluruhan. Dalam tahap
kedua individu menyesuaikan dengan standar sosial dan ideal yang
diinternalisasi lebih untuk menghindari hukuman terhadap diri sendiri daripada
sensor sosial. Dalam tahap ini, moralitas didasarkan pada rasa hormat kepada
orang-orang lain dan bukan pada keinginan yang bersifat pribadi.
Ada tiga tugas pokok remaja dalam mencapai moralitas remaja
dewasa, yaitu:
1. Mengganti konsep moral khusus dengan konsep moral umum.
2. Merumuskan konsep moral yang baru dikembangkan ke dalam
kode moral sebagai kode prilaku.
3. Melakukan pengendalian terhadap perilaku sendiri.
Hal penting lain dari teori
perkembangan moral Kohlberg adalah orientasinya untuk mengungkapkan moral yang
hanya ada dalam pikiran dan yang dibedakan dengan tingkah laku moral dalam arti
perbuatan nyata. Semakin tinggi tahap perkembangan moral sesorang, akan semakin
terlihat moralitas yang lebih mantap dan bertanggung jawab dari
perbuatan-perbuatannya.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan, dapat diambil kesimpulan bahwa
moral berasal dari Bahasa Latin yaitu Moralitas adalah
istilah manusia menyebut ke manusia atau orang lainnya dalam tindakan
yang mempunyai nilai positif. Manusia yang tidak memiliki moral disebut amoral
artinya dia tidak bermoral dan tidak memiliki nilai positif di mata manusia
lainnya. Sehingga moral adalah hal mutlak yang harus dimiliki oleh manusia.
Moral secara ekplisit adalah hal-hal yang berhubungan dengan proses
sosialisasi individu tanpa moral manusia tidak bisa melakukan
proses sosialisasi. Moral merupakan kondisi pikiran, perasaan,
ucapan, dan perilaku manusia yang terkait dengan nilai-nilai baik dan buruk.
B. SARAN
Dalam hal-hal di atas yang telah kami terapkan tentang
moralitas, tiap-tiap orang harus dapat melaksanakan tanggung jawab dan
kewajiban karena hormat terhadap hukum, sedangkan hukum itu sendiri tertulis dalam
hati manusia. Dengan kata lain, moralitas adalah tekad untuk mengikuti apa yang
dalam hati disadari sebagai kewajiban mutlak. Setiap manusia mempunyai
kekurangan dan kelebihan masing-masing, dan setiap moral dan moralitas
masing-masing orang harus dapat di buktikan ditiap-tiap kehidupan setiap
manusia, agar manusia juga dapat memiliki pikiran, perasaan, ucapan, dan
perilaku manusia yang terkait dengan nilai-nilai baik.
DAFTAR PUSTAKA
Alkitab
Abdul Djamali. 2007. Pengantar
Hukum Indonesia. Jakarta; Rajawali
Press.
Abdulkadir Muhammad. 1997. Etika
Profesi Hukum. Bandung;
Citra Aditya Bakti.
Bertens K. 1994. Etika. Jakarta; Gramedia Pustaka Utama.
C. S. T. Kansil. 1986. Pengantar
Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia. Jakarta; Balai Pustaka.
Friedman. 1994. Teori
dan Filsafat Hukum.Susunan
I. Terjemahan Muhammad Arifin. Jakarta; Raja Grafindo Persada.
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).
2008. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia.
Supriadi. 2006. Etika
dan Tanggung Jawab Profesi Hukum di Indonesia. Jakarta; Sinar Grafika.
Cahyadi, Ani, 2006, Psikologi Perkembangan, Ciputat : Press
Group
Desmita, 2007. Psikologi Perkembangan, Bandung : Rosda
Karya
Fatimah Enung, 2006. Psikologi Perkembangan, Bandung :
Pustaka Setia
Hamalik Oemar, 1995. Psikologi Remaja (dimensi-dimensi
perkembangan), Bandung: Maju Mundur
Hartati Netty, 2004. Islam dan Psikologi, Jakarta: Raja
Grafindo Persada
Hurlock, Elizabeth B. 1980, Psikoilogi Perkembangan, New
York: McGraw-Hill, Inc.
Nurihsan, Juntika, 2007. Perkembangan Peserta Didik,
Bandung : Sekolah Pasca Sarjana UPI
Panuju, Panut, 1999, Psikologi Remaja, Yogyakarta : Tiara
Wacana Yogya
Santrock, John W., 1996, Adolescence (Perkembangan Remaja),
The University of at Dallas: Times Mirror higher Education
Santrock, John W, 1983, Life-Span Development (Perkembangan
Masa Hidup), University of Texas at Dallas: Brown and Bench-mark
Yusuf, Syamsu, 2007, Psikologi Perkembangan Anak dan
Remaja, Bandung: Rosda Karya

thankyou sangat membantu. GBU
BalasHapustrima kasih
BalasHapusini sangat membantu