Pendidikan agama kristen Makalah manusia
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Menurut kesaksian Alkitab, manusia diciptakan oleh Allah
serupa dan segambar dengan Dia. Manusia berdosa dan membutuhkan pemulihan
melalui pertobatan. Tuhan Allah sangat peduli dengan kehidupan manusia serta
seluruh ciptaanNya. Pada hakikatnya manusia diciptakan sebagai makhluk
religious, rasional dan social.
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan permasalah yang telah di
ungkapkan dalam latar belakang masalah, maka penulis ingin mengantarkan rumusan
masaalah sebagai berikut:
A. Jelaskan Pengertian Manusia?
B. jelaskan Pengertian Manusia
Menurut Parah Ahli?
C. Jelaskan Apa yang Dimaksud Manusia Menurut Gambar dan Rupa
Allah?
D. Jelaskan Apa yang
Dimaksud Manusia Adalah Makhluk Yang Terdiri Dari Tubuh dan Jiwa ?
E. Jelaskan Apa yang
Dimaksud Manusia Diciptakan Sebagai Laki-laki dan Perempuan?
F. Jelaskan Apa yang
Dimaksud Manusia Sebagai
Mandataris Allah?
C. TUJUAN PENULISAN
· Memenuhi
tugas dari dosen mata kuliah Pendidikan Agama Kristen. Agar materi ini
bisa dipahami/ dimengerti oleh Mahasiswa.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
PENGERTIAN MANUSIA
Menurut Plato manusia adalah ibarat teks yang sulit maknanya harus diuraikan
oleh filsafat. Tetapi dalam pengalaman kita sebagai pribadi, teks itu ditulis
dengan huruf yang terlampau kecil sehingga tak terbaca. Sedangkan menurut
Socrates manusia adalah makhluk yang bila di sodori pertanyaan yang rasional
dapat menjawab secara rasional pula. Lain pula menurut Ernst Cassirer, hakikat
manusia tak ditentukan oleh tambahan-tambahan dari luar ia semata-mata
tergantung pada penilaian diri, manusia dimaklumkan sebagai makhluk yang
terus-menerus mencari dirinya makhluk yang setiap saat harus menguji dan
mengkaji secara cermat kondisi-kondisi eksistensi. Kita akan memperoleh
gambaran tentang sifat manusia hanya bila kita bergaul dengan manusia.
Sedangkan menurut Charles Darwin: “Simpanse dan gorilla adalah kerabat dekat
dari manusia”. Manusia adalah hasil revolusi kera. Menurut Johnson Raley
Wedberg: manusia adalah spesies primate yang maju dan modern. Sedangkan,
menurut ajaran agama Hindu: kehidupan bermula dari Brahmana timbul angkasa,
dari angkasa ke udara, dari udara kea pi kemudian ke air, dari air ke tanah
kemudian tanah itu menghasilkan tumbuh-tumbuhan yang kemudian akan menghasilkan
makanan dan pada makanan itu terdapat biji dan biji itu menghasilkan manusia.
Sedangkan menurut paham Totemisme: manusia berasal dari suatu jenis binatang.
Menurut Origenes, manusia dijadikan sesuai dengan peta/rupa dan gambar Allah
itu memiliki tabiat yang berakal, dengan maksud agar manusia telaten menjadi
serupa dengan Allah. Irenius berpendapat lain, menurutnya manusia sejak semula
telah menurut rupa dan gambar Allah, yang berarti sejak semula ia adalah
makhluk yang berakal dan serupa dengan Allah. Marthin Luther, bahwa manusia
memiliki pengetahuan akan Allah, kebenaran dan kekudusan, yang setelah manusia
jatuh ke dalam dosa, hilang sama sekali. Manusia pada hakekatnya segambar
Allah. Yohanes Calvin berpendapat, bahwa yang dimaksud “gambar” adalah hakekat
manusia yang tidak dapat berubah, sedangkan yang dimaksud dengan rupa adalah
sifat manusia yang dapat berubah, maksudnya bahwa manusia memiliki akal,
kehendak dan kepribadian.
Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan kesaksian Alkitab yang paling awal
tentang manusia merupakan ciptaan Tuhan. Manusia tidak terjadi dengan
sendirinya melalui proses evolusi. Manusia diciptakan berbeda dari makhluk
hidup lainnya termasuk kera dan karenanya bukan keturunan kera. Sebagai ciptaan
Tuhan maka Tuhan adalah sumber hidup Dan Tuhan berdaulat atas kehidupan dan
tujuan hidup manusia. Sebagai makhluk, manusia tak akan pernah sama dengan
penciptanya. Betapa hebatnya potensi rasional manusia, ia tetap makhluk denagn
segala keterbatasannya.
Manusia sebagai makhluk imago dei (serupa gambar Allah) dan
religius. Konsep imago dei ini sudah sangat tua dalam
tradisi agama Yahudi dan sudah menjadi pokok perdebatan yang hangat dalam
tradisi agama Kristen. Ada yang mengartikan sebagai kesamaan atau kemiripan
dengan Allah dalam hal dimensi spiritualnya, atau potensi rasional. Hal ini
biasa dikaitkan dengan mandate dari Tuhan untuk menguasai dan memerintah alam
semesta. Keseragaman manusia dengan Allah menunjuk pada relasi manusia dengan
Tuhan. Jadi keseragaman manusia dengan Tuhan berarti manusia diciptakan dengan
potensi untuk relasi dengan Tuhan melalui satu cara lain. Potensi tentu saja
bias direlasikan tetapi bias juga tidak.
Manusia sebagai makhluk social menunjuk kepada kecenderungan manusia yang tetap
untuk berorientasi terhadap sesama manusia. Orientasi yang tetap ini mengambil
bentuk dalam terciptanya berbagai pranata social mulai dari yang paling
sederhana seperti keluarga sampai kepada yang sangat kompleks seperti Negara
dan perusahaan. Realita itu dapat membuktikan bahwa sesungguhnya manusia
mempunyai kebutuhan social atau kebutuhan akan relasi-relasi social. Lebih jauh
lagi manusia juga menciptakan norma-norma social yang mengatur perilaku dalam
kaitannya dengan relasi-relasi social seperti kepercayaan, nilai-nilai dan
sebagainya. Memang selalu ada pilihan antara kepentingan individu atau social
tetapi tetap saja tidak bias menggantikan kebutuhan manusia pada sesamanya.
Manusia sebagai makhluk rasional dan berbudaya. Bahwa manusia diciptakan lain
dari makhluk hidup lain sudah jelas antara lain karena manusia mempunyai
potensi rasional. Potensi memungkinkan manusia untuk dapat mengembangkan
kebudayaan dalam arti luas. Fakta ini menjadi sangatjelas dalam pembangunan
ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni. Potensi inilah yang membawa manusia
pada kemajuan IPTEK dan seni sampai pada tingkat yang canggih sekarang ini.
Dengan potensi ini manusia yang mempunyai orientasi tetap dengan alam semesta
ini. Inilah yang dimaksud dengan tugas mandataris artinya wakil Allah di dunia
dalam rangka memerintah dan memelihara alam ciptaan Tuhan.
Manusia sebagai makhluk etis yaitu manusia mempunyai potensi dan kapasitas
untuk mempertanyakan dan membedakan apa yang baik dan sebaliknya. Manusia tidak
saja mampu membedakan mana yang baik dari yang tak baik secara etis, namun
manusia juga mempunyai kebebasan untuk memilih sekaligus mempertanggungjawabkan
pilihannya.
Hakekat manusia yang lain adalah bahwa manusia adalah orang berdosa. Semua
hakekat yang sudah disebutkan memperlihatkan dimensi yang luar biasa dari keluhuranmanusia.
Kejadian pasal 3, sudah menjelaskan tentang kejatuhan manusia dalam dosa.
Disini dosa tidak hanya merupakan pelanggaran moral atau aturan-aturan
melainkan pada dasarnya merupakan sikap yang salah terhadap Allah atau bahkan
dapat dikatakan pemberontakan manusia terhadap Allah. Artinya, manusia menolak
kedaulatan Allah atas hidupnya dan pengrah tujuan hidupnya. Jadi dapat
dikatakan bahwa dosa adalah pelanggaran terhadap kehendak Allah dan mempunyai
konsekuensi-konsekuensi moral dan etis dalam berbagai dimensi hubungan manusia;
dengan sesame; dengan alam ciptaan Tuhan, dan bahkan dengan diri sendiri.
Ajaran tentang dosa ini mempunyai tempat yang sentral dalam Alkitab dan juga
dalam tradisi Kristen. Itulah sebabnya Yesus Kristus dating ke dalam dunia
untuk menyelamatkan manusia dari dosa-dosa. Ajaran ini bertendensi seolah-olah
dosa selalu diartikan secara individu. Namun ada lagi jenis dosa yang lebih
parah konsekuensinya yakni dosa social atau structural. Pengertian ini
dikembangkan oleh para teolog pembebasan. Ternyata pendritaan dan kemiskinan
manusia banyak diakibatkan oleh dosa social, misalnya oleh struktur social,
politik dan ekonomi yang tidak adil.
Manusia adalah keturunan dewa sebagai hasil dari perkawinan suci antara para
dewata. Dalam kehidupan agama suku, langit dipandang sebagai alam atas, langit
melambangkan asas laki-laki, segala sesuatu yang ada dibalik langit merupakan
hal yang misteri. Sedangkan bumi dianggap sebagai alam bawah, melambangkan asas
perempuan, asa perempuan dipandang sebagai alam bawahan yang ada di bawah bumi.
Manusia adalah hasil perkawinan dari alam atas dan dari alam bawah. Alam tempat
tinggal manusia disebut alam tengah. Peperangan suci antara dewa-dewa, dalam
peperangan ini alam atas dan bawah berusaha untuk saling membinasakan. Akan
tetapi dari pembinasan itulah lahirlah manusia dari bumi, sehingga kesatuan
kedua tokoh tadi dipulihkan atau diperbaharui dalam ciptaan yang baru.
Manusia adalah salah satu bagian dari alam. Segala sesuatu adalah subjek,
manusia adalah satu subjek, manusia tidak ada bedanya dengan alam sekitarnya.
Manusia adalah salah satu bagian dari alam sehingga agama-agama suku
mempercayai bahwa hidup manusia tergantung pada kekuatan-kekuatan yang ada di
sekitarnya. Alam sekitar sangat mempengaruhi kehidupan manusia, selalu untuk
menyenangkan alam sekitarnya dengan upacara-upacara keagamaan. Manusia
menguasai alam, walaupun manusia sangat mempengaruhi kekuatan-kekuatan yang ada
di alam sekitarnya, ia dapat menguasai kekuatan-kekuatan tersebut, karena
semua itu bukanlah kekuatan-kekuatan yang pribadi. Baik atau tidaknya keadaan
manusia tergantung dari bagaimana manusia menguasai kekuatan-kekuatan alam
tersebut.
Humanisme adalah paham yang menganggap manusia sebagai objek studi terpenting
jadi pusat dari objek studi bukan alam, bukan Tuhan tetapi manusia. Gerakan
humanism muncul ketika orang menyadari adanya ketidakseimbangan dalam pemenuhan
kebutuhan manusia, pada waktu itu gereja mendominasi ilmu pengetahuan. Biara
adalah pusat untuk mempelajari berbagai ilmu pengetahuan. Kaum terpelajar pada
waktu itu: para pendeta dan biarawan hanya sibuk dengan persoalan-persoalan
teologi yang rumit sehingga mereka tidak lagi memperhatikan kebutuhan
sehari-hari manusia. Dalam perkembangannya selanjutnya, humanisme yang sering
disebut humanisme modern tidak hanya sekedar berjuang untuk memperhatikan dan
memenuhi kebutuhan-kebutuhan jasmani manusia, tetapi mereka pun menciptakan
aagama. Prinsip ajaran humanisme modern itu adalah: menolak kepercayaan kepada
Allah, percaya kepada kemampuan manusia sendiri. Manusia dijadikan sebagai
ukuran untuk menilai segala sesuatu dan mereka mementingkan etika dan susila,
namun meninggalkan ajaran agama.
Dalam pandangan evolusionisme yang di dalamnya mengajarkan tentang segala
bentuk kehidupan baik organism maupun social dan budaya, yang berkembang dari
bentuk yang sederhana kea rah bentuk yang sempurna. Dalam pandangan
evolusionisme memiliki dasar yaitu tidak ada Allah, manusia adalah binatang
menyusui yang tertinggi yang cerdas sebagai kelanjutan dari makhluk sebelumnya
yang sederhana dan factor seleksi alam (natural selection) sangat menentukan
hidup atau matinya makhluk yang ada. Hidup harus diperjuangkan (struggle of life).
Dalam pandangan komunisme, agama dipandang sebagai penyebab kesengsaraan.
Sejalan dengan kebenciannya terhadap agama, komunisme menolak keberadaan Allah.
Allah adalah khayalan dan fantasi pikiran manusia. Manusialah yang menjadikan
Allah dan manusialah sebagai Allah sendiri. Manusia adalah sumber segala
sesuatu itulah yang disebut atheime. Komunisme memandang materi sebagai milik
bersama sebagai hal yang pokok. Segala sesuatu diukur dari masalah-masalah
materi (ekonomi). Manusia dipandang sebagai benda bergerak, mempunyai arti
kebersamaan dengan orang lain. Dalam kesendirian manusia tidak mempunyai arti
dan itulah yang disebut dengan materialism. System ekonomi sangat menentukan
kehidupan dalam masyarakat. Manusia dilihat sebagai hasil dari lingkungannya,
dari system ekonomi yang berlaku. Manusia adalah homo economicus .
manusia tidak bias menentukan dirinya sendiri, karena terikat oleh system
ekonomi. Dosa itu tidak ada, keberadaan manusia yang buruk disebabkan oleh
adanya kapitalisme. Dan hal ini dapat diperbaiki dengan melaksanakan perubahan
system ekonomi yang di dalamnya diharapkan bahwa semua orang yang dapat
memiliki segala sesuatu secara bersama. Hidup hanya dapat dilihat sebagai
masalah perut belaka. Manusia adalah apa yang dimakannya(biologis-ekonomi).
Menurut pandangan determinisme, manusia bergerak karena adanya kekuatan atau
kuasa dari luar. Manusia tidak bias melakukan segala sesuatu sendiri, harus ada
penyebabnya. Secara etimologi, determinisme berasal dari kata to determine yang
artinya menetapkan, menakdirkan. Ini adalah paham yang mengajarkan bahwa segala
sesuatu terjadi karena ada yang menyebabkannya atau menakdirkannya. Ada
beberapa penyebab yang memungkinkan manusia melakukan sesuatu adalah
lingkungan. Lingkungan adalah penyebab sesuatu yang terjadi dalam kehidupan
manusia. Pandangan ini didasarkan pada pokok ajaran bahwa manusia adalah tubuh
jasmani yang tidak mempunyai jiwa atau roh. Peraturan-peraturan kosmos dimana
manusia diatur oleh peraturan-peraturan kosmos yang ada sejak semulanya. Allah
dianggap sebagai penentu (menakdirkan) segala sesuatu dalam kehidupan manusia.
Manusia dianggap hanyalah boneka yang siap dan harus menerima segala sesuatu
yang akan terjadi, yang baik ataupun yang buruk. Manusia tidak mempunyai hal
untuk bertanya atau mengubahnya.
B. PENGERTIAN MANUSIA MENURUT
PENDAPAT PARA AHLI
Berikut ini adalah
pengertian dan definisi manusia menurut beberapa ahli:
NICOLAUS D. & A. SUDIARTJA
Manusia adalah bhineka, tetapi tunggal. Bhineka karena ia adalah jasmani
dan rohani akan tetapi tunggal karena jasmani dan rohani merupakan satu barang.
ABINENO J. I
Manusia adalah “tubuh
yang berjiwa ” dan bukan
“ jiwa abadi yang
berada atau yang
terbungkus dalam tubuh
yang fana “.
UPANISADS
Manusia adalah
dari unsur-unsur roh (atman) , jiwa, pikiran,
dan prana atau
badan fisik.
SOKRATES
Manusia adalah makhluk
hidup berkaki dua
yang tidak berbulu
dengan kuku datar
dan lebar. Manusia menurut
iman Kristen Alkitab menyaksikan
bahwa manusia merupakan
ciptaan yang memiliki
harkat dan martabat.
C.
MANUSIA MENURUT GAMBAR DAN RUPA ALLAH
Dalam perjanjian lama menyebut gambar dengan kata tselem yang berarti
gambar, patung, model yang asli, sedangkan rupa disebut dengan kata Demuth yang
berarti salinan, tembusan yang asli. Dalam perjanjian Baru menyebut gambar
dengan kata eikon yang berarti bentuk asli, perwujudan yang dilukiskan
yang Nampak. Dari penjelasan ini dapat diartikan bahwa pada awal penciptaan
manusia, antara manusia dengan Allah ada kesamaan yaitu kesamaan ilahi. Tetapi
setelah manusia jatuh ke dalam dosa maka kedudukan manusia sebagai gambar dan
rupa Allah menjadi rusak.
Kristus datang ke dalam dunia untuk memperbaiki gambar yang rusak itu. Kristus
adalah sungguh-sungguh Allah dan Ia juga adalah manusia. Ia dating untuk
melaksanakan pekerjaan penebusan, mendamaikan Allah dengan manusia. Sebagai
Allah, sepenuhnya Ia mampu mendamaikan manusia dengan Allah dan pendamaian yang
dilakukanNya itu sungguh-sungguh bias dirasakan manusia. Di dalam pekerjaanNya
dengan manusia. Dalam hubunganNya dengan Allah, Yesus taat menjalankan
perintah-perintah BapaNya untuk menytelamatkan dunia. Dalam hubunganNya dengan
manusia Yesus prihatin dan mengasihi umatNya serta rela mati menebus dosa
umatNya. Yesus sebagai gambar dan rupa Allah bearti: manusia dan Allah tidak
dapat mepaskan diri dari hubungan satu sama lain, Kristus yang adalah Allah (anak)
setia dan taat kepada BapaNya dan selalu memperhatikan umatNya manusia. Ia
sebagai manusia selalu setia kepada Allah dan memperhatikan dan mengasihi
sesamanya manusia. Ia hidup dalam persekutuan dengan Allah dan manusia.
Manusia sebagai gambar dan rupa Allah berarti manusia betul-betul menyadari
bahwa dirinya tidak lepas dari keterikatannya dengan Allah. Bahwa ia ditentukan
untuk hidup bersama-sama dengan Allah(kel 20:1-11). Manusia ada hubungan dengan
sesamanya dalam situasi saling menilong, saling memperhatikan, saling
menghargai. Manusia harus saling menghormati sesamanya sebagai gambar Allah.
D.
MANUSIA ADALAH MAKHLUK YANG TERDIRI DARI TUBUH DAN JIWA.
Allah menciptakan manusia sebagai
makhluk yang terdiri dari tubuh dan jiwa yang utuh. Ketika Allah menciptakan
manusia (kej 2:7), ia menghembuskan nafas kehidupan (roh dan jiwa) kepadanya,
sehingga dengan terciptalah manusia yang sempurna. Ini berarti apa yang rohani
tidak bias dilepaskan dari yang jasmani (psikosomatis). Dalam 1 kor 15:35
menggunakan istilah “tubuh” untuk menyebutkan manusia secara keseluruhan
jasmani dan rohani. Tubuh dipakai untuk menjelaskan cara beradanya manusia.
Hati dimengerti sebagai tenaga untuk memperhatikan, tempat kedudukan, maksud,
sikap yang baik maupun jahat, tempat akal budi. Dengan hatinya manusia
menjadi makhluk yang berakal budi, yang memiliki pengetahuan, yang dapat
dimengerti, dapat mengalami, dapat berhubungan dengan manusia sekitarnya dan
menentukan sikap terhadapnya. Roh dimengerti sebagai alat untuk mengetahui
tempat emosi (kej 41:8) atau untuk menghayati dunia luar dan menanggapinya,
alat untuk beraksi (Rm 8:16), alat untuk beribadah (Rm 1:9) dan alat untuk
bersekutu (Filipi 2:1). Dengan Roh manusia dapat menerima dan menyatakan segala
macam hal yang bersifat kejiwaan dalam arti senang, sedih, girang, takut,
marah, dan sebagainya.
E.
MANUSIA DICIPTAKAN SEBAGAI LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN
Tuhan Allah berfirman: “tidak baik
kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang
sepadan dengan dia (kej 2:18)”. Diciptakannya manusia sebagai laki-laki dan
perempuan, yang menunjukkan adanya dua jenis yang berbeda, bukan untuk
dipertentangkan, tetapi untuk disatukan, untuk tujuan yang sempurna pada diri
manusia baik laki-laki dan perempuan belumlah sempurna makanya harus saling
melengkapi dan menyempurnakan sehingga tercipta satu kesatuan (dwi tunggal).
Manusia diciptakan oleh Allah untuk beranak cucu dan bertambah banyak (kej
1:28). Dengan hal ini menunjukkan suatu hubungan antara manusia laki-laki dan
perempuan yang di dalamnya tidak mencari kepentingan diri sendiri melainkan
saling mengasihi, saling menghargai, mencari kebahagiaan bersama. Kehidupan
bersama antara laki-laki dan permpuan dapat mewujudkan hidup saling menolong
secara nyata dan saling melengkapi.
Dalam kej 1:26-27 memberi kesaksian tentang tugas dan tanggung jawab manusia
untuk menguasai alam. Manusia diberi tanggung jawab oleh Allah untuk mengolah,
tetapi juga memelihara alam (kej 2:15). Manusia adalah kawan sekerja Allah.
Artinya dalam kehidupannya manusia ikut serta dalam berkarya dan hasil
pekerjaan Allah itu baik (kej 1:31). Oleh sebab itu manusia terpanggil untuk
memelihara hasil karya Allah yang baik itu, bukan untuk merusaknya.
Meskipun laki-laki dan perempuan merupakan ciptaan Allah yang diciptakan
menurut gambar dan rupaNya, namun laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan
baik perbedaan jasmani (biologis) maupunpsikologis. Perbedaan jasmani dapat
dilihat dari bentuk alat kelamin, sedangkan perbedaan menyangkut psikologis
dapat dilihat dari perasaan yang dimiliki (perempuan memiliki perasaan yang
lebih dalam dan tersimpan lamadaripada laki-laki), perbedaan pikiran (perempuan
cenderung berpikir emosional sedangkan laki-laki berpikir rasional), perbedaan
penekanan (laki-laki berperan sebagai pekerja <kej 3:17-19> sehingga
bersifat pembuat, sedangkan wanita mempunyai peran sebagai ibu <kej 3:20>
sehingga bersifat memelihara) dan perbedaan rangsangan seksual (laki-laki terangsang
pada hal-hal lahiriah yang Nampak dari luar, sedangkan perempuan lebih
terangsang pada hal-hal batiniah. Rangsangan seksual laki-laki munculnya bias
tiba-tiba, dalam keadaan yang tinggi, tetapi akan cepat mereda. Pada wanita,
rangsangan seksualnya lebih perlahan dan lebih lama redanya).
F.
MANUSIA SEBAGAI MANDATARIS ALLAH
Pada saat Allah menciptakan manusia, Ia memberikan tugas dan tanggung jawab
kepada manusia untuk memperbanyak keturunan, memenuhi bumi dan menaklukannnya,
berkuasa atas ikan-ikan, burung-burung dan atas segala binatang merayap. Tugas
dan tanggung jawab tersebut merupakan membedakan manusia dari segala makhluk
ciptaan Allah lainnya. Tugas dan tanggung jawab itu merupakan anugerah Allah
bagi manusia, bahwa manusia diperkenankan memperbanyak keturunan, memenuhi
bumi, mengelola bumi demi kepentingannya dan memiliki otoritas atas segal
binatang di air, udara, dan daratan. Allah meletakkan segala-galanya di bawah
kaki manusia, dan manusia berkuasa atas segala ciptaan tangan Allah (Maz 8:7).
Itulah kemuliaan yang dianugerahkan kepada manusia bahwa manusia merupakan
mahkota dari ciptaan Allah. Manusia menjadi mandataris Allah, dalam hubungan
khusus dengan Allah. Tugas dan tanggung jawab yang dipercayakan kepada manusia
itu bermaksud mendorong manusia mengambil prakarsa dan berkarya dengan
kepentingan sendiri dan kepentingan makhluk-makhluk yang lain. Ini adalah
tugaas suci yang diberikan kepada manusia. Dengan melaksanakan tugas tersebut
berarti memuliakan Allah pencipta langit dan bumi.
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Akhir kata “tiada yang sempurna”, demikian pula dengan
makalah ini, masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, saran dan kritik yang
membangun tetap kami nantikan untuk kesempurnaan makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA
Alkitab
Pdt.
S. A. L. Tombeg STh. MTeol, Pdt. T. D. Wua STh. 2008. Pendidika Agama Kristen,
Depdiknas UNIMA
Wiesye M . S . Nangoy , S.Th , M.Teol , PENDIDIKAN AGAMA
KRISTEN . Tondano , januari
2012
Pdt
.S.A.L. Tombeg, STH, MTeol BAHAN AJARAN .DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL , Universitas Negeri
Manado 2010
Aneke A. Salam , M.Teol HANBOOK ,Universitas Negeri
Manado 2009

Komentar
Posting Komentar