Makalah Tentang Angkatan Balai pustaka Atau Angkatan 45
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Masalah
Sastra merupakan suatu kata yang sampai saat ini belum ada
yang mampu menafsirkan secara tepat tentang pengertiannya, bahkan kata tersebut
sampai saat ini masih menjadi bahan pertanyaan para ilmuan demi untuk mencari
keselarasan pengertian yang tepat. Menurut Teeuw (2002: 23) kata sastra dalam
bahasa Indonesia berasal dari bahasa sansekerta; akar kata sas- dalam kata
kerja turunan berarti mengarahkan, mengajarkan, memberi petunjuk atau
instruksi. Akhiran –tra biasanya menunjukkan alat, sarana. Maka, berdasarkan
penggabungan tersebut sastra dapat berarti alat untuk mengajar, buku petunjuk,
buku instruksi atau alat pengajaran.
Kalau kita berbicara tentang sastra dan karya sastra, maka
tidak akan terlepas dari angkatan dan penulisan sejarah sastra Indonesia, juga
karakteristik wawasan estetikanya. Hal itu disebabkan karena sastra
(Kesusastraan) dari waktu-kewaktu pasti akan mengalami perkembangan sesuai
periode-periode sastra. Rangkaian periode-periode sastra itu saling
bertumpang-tindih, maksudnya sebelum angkatan kemarin atau angkatan lama
lenyap, maka timbul benih-benih baru yang lebih kritis dan kreatif.
Setiap angkatan dalam suatu periodisasi sastra pasti memiliki
karakteristik tersendiri. Jadi tidak menutup kemungkinan kalu kita melihat
terlebih dahulu tentang pengertian kata karakteristik. Karakteristik berasal
dari kata dasar karakter. Menurut Poerwadarminta (1984: 445) karakter adalah
tabiat, watak, sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yan gmembedaka seseorang
dengan yang lain. Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa karakteristik dalam
sastra adalah sifat yang membedakan suatu karaya sastra dengan karya sastra
yang lain. Apabila dihubungkan dengan suatu angkatan maka karakteristik sastra
angkatan balai pustaka adalah sifat-sifat yang membedakan baik karya sastra
maupun pengarangnya dalam satu angkatan itu dengan angkatan yang lain, jadi
bukan semata-mata hanya satu karya sastra saja, melainkan keseluruhan karya
sastra dalam suatu angkatan tesebut.
Seperti yang telah kita ketahui,
definisi karya sastra adalah suatu karya yang mengandung nilai seni dan
mengarah kepada pedoman-pedoman serta pemikiran-pemikiran hidup. Sedangkan
Sastra Indonesia sendiri dapat merujuk pada sastra yang dibuat di wilayah
Kepulauan Indonesia. Sering juga secara luas dirujuk kepada sastra berbahasa
akarnya, yakni bahasa melayu.
Sastra di Indonesia sudah ada sejak
dulu sekali bahkan mungkin sudah ada sejak zaman purbakala dimana
manusia-manusia purba memulai untuk menggambar dan menulis sesuatu di dalam
gua-gua, sehingga menghasilkan karya-karya sastra. Tetapi karya-karya tersebut
kemudian menghilang karena perkembangan zaman yang mungkin kurang maju. Lebih
pastinya karya sastra di Indonesia dimulai sejak zaman “Angkatan Pujangga Lama”
sebelum abad ke-20. Pada masa ini karya sastra Indonesia didominasi oleh
karya-karya sastra berbahasa akar (bahasa melayu), seperti syair, pantun,
gurindam, dan hikayat. Budaya melayu klasik dan pengaruh Islam yang kuat
mempengaruhi sebagian besar wilayah pesisir pantai Sumatera dan Semenanjung
Malaya. Setelah adanya “Angkatan Pujangga Lama”, muncul lah “Angkatan Sastra
Melayu Lama” yang muncul antara sekitar tahun 1870-1942. Setelah “Angkatan
Sastra Melayu Lama”, muncul lah “Angkatan Balai Pustaka” yang akan saya bahas
dalam makalah ini.
Sebenarnya angkatan ini dipelopori
oleh sebuah penerbit “Balai Pustaka” pada tahun 1920-1950. Karya ini terdiri
dari prosa (roman, cerita pendek, novel, dan drama) dan puisi yang menggantikan
syair, pantun, gurindam, dan hikayat yang mungkin pada masa itu terlalu memberi
pengaruh buruk, banyak menyoroti kehidupan cabul, dan dianggap memiliki misi
politis. Balai Pustaka menerbitkan karya dalam tiga bahasa yaitu bahasa
Melayu-Tinggi, bahasa jawa dan bahasa sunda, dan dalam jumlah terbatas dalam
bahasa bali, bahasa batak, dan bahasa Madura.
Pada masa ini, novel Siti
Nurbaya dan Salah Asuhan menjadi karya yang cukup
penting. Keduanya menampilkan kritik tajam terhadap adat-istiadat dan tradisi
kolot yang membelenggu. Dalam perkembangannya, tema-tema inilah yang banyak
diikuti oleh penulis-penulis lainnya pada masa itu. Tidak hanya itu juga,
banyak karya-karya sastra menarik dan cukup mengilhami pada Angkatan Balai
Pustaka, seperti Azab dan Sengsara (Merari Siregar, 1920), Ken Arok dan Ken
Dedes (Muhammad Yamin, 1934), Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati, 1928),
dll.
Pada masa Angkatan Balai Pustaka, Nur
Sutan Iskandar dapat disebut sebagai "Raja Angkatan Balai Pustaka"
oleh sebab banyak karya tulisnya pada masa tersebut. Apabila dilihat daerah
asal kelahiran para pengarang, dapatlah dikatakan bahwa novel-novel Indonesia
yang terbit pada angkatan ini adalah "novel Sumatera", dengan
Minangkabau sebagai titik pusatnya.
Angkatan Balai Pustaka bisa disebut
masa dimana proses modernisasi karya-karya sastra terjadi. Dimana tidak lagi
terpaut oleh budaya-budaya melayu yang kental.
Balai Pustaka merupakan suatu angkatan yang sangat berpengaruh kepada perkembangan perpustakaan baru terutama yang tertulis dengan huruf latin (Usman, 1979: 15). Hal itu tercermin dengan pindahnya pusat perhatian orang-orang yang berminat kepada kesusastraan ke Balai Pustaka (Jakarta) yang berpengaruh pada perkembangan bahasa dari bahasa melayu baru (yang banyak dipengaruhi oleh bahasa-bahasa daerah dan bahasa surat kabar) kemudian menjelma menjadi bahasa Indonesia.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa dengan munculnya angkatan Balai
Pustaka maka telah membuka hati para penulis untuk mau memperlihatkan hasil
karyanya yang dulunya menggunakan bahasa daerah kemudian beralih menggunakan
bahasa Indonesia sebagai ungkapan rasa bangga berbangsa Indonesia. Saelain itu,
dengan munculnya angkatan Balai Pustaka maka telah membuka semangat dan
kesadaran para penulis untuk mempersatukan daerah-daerahnya demi keutuhan
bangsa Indonesia. Disisi
lain Balai Pustaka juga dikenal sebagai nama suatu penerbit besar yang berdiri
pada sekitar tahun 1920an yang pada tahun tersebut beriringan dengan munculnya
angkatan Balai Pustaka. Munculnya angkatan Balai Pustaka memang disesuaikan
dengan karya-karya besar yang terkenal pada waktu itu yang sebagian besar
diterbitkan dari penerbit Balai Pustaka Jakarta.
Berbicara mengenai periodisasi sastra khususnya Balai Pustaka
maka tidak menutup kemungkinan kalau meninjau tentang keadaan sosial pada tahun
1920an, dimana menurut Teeuw (1980: 15) pada tahun tersebut merupakan tahun
lahirnya kesusastraan Indonesia modern. Pada waktu itu para pemuda indonesia
mulai menyatakan perasaan dan ide yang berbeda dengan masyarakat setempat.
Perasan itu dituangkan dalam bentuk sastra namun menyimpang dari bentuk sastra
melayu, jawa, dan sastra-sastra lain sebelumnya.
Melihat kenyataan tersebut, khususnya menyangkut tentang
pengkajian masalah karakteristik sastra angkatan Balai Pustaka sepengetahuan
penulis belum pernah dilakukan. Maka penulis ingin menganalisis dengan tujuan
untuk mengetahui lebih dalam tentang angkatan Balai Pustaka yang mencakup
tokoh, karakteristik, dan hasil karyanya.
2. Rumusan
Masalah
Berdasarkan permasalan yang telah diungkapkan dalam latar belakang
masalah, maka penulis ingin mengantarkan rumusan masalah sebagai berikut:
a.
sebutkan
sejarah berdirinya periode balai pustaka atau periode tahun 20-an?
b.
Sebutkan
pengarang dan karya sastra periode 20-an?
c.
Sebutkan
ciri-ciri karya sastra periode 20-an?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Sejarah
Angkatan Balai Pustaka (20-an)
Karya
sastra di Indonesia sejak tahun 1920 – 1950, yang dipelopori oleh penerbit
Balai Pustaka. Prosa (roman, novel, cerita pendek dan drama) dan puisi mulai
menggantikan kedudukan syair, pantun, gurindam dan hikayat dalam khazanah
sastra di Indonesia pada masa ini.
Balai
Pustaka didirikan pada masa itu untuk mencegah pengaruh buruk dari bacaan cabul
dan liar yang dihasilkan oleh sastra Melayu Rendah yang banyak menyoroti
kehidupan pernyaian (cabul) dan dianggap memiliki misi politis (liar). Balai
Pustaka menerbitkan karya dalam tiga bahasa yaitu bahasa Melayu-Tinggi, bahasa
Jawa dan bahasa Sunda; dan dalam jumlah terbatas dalam bahasa Bali, bahasa
Batak dan bahasa Madura.
Angkatan
kesusastraan Indonesia balai pustaka, dimulai penghitungannya dari tahun
1920. Kelompok ini disebut dengan angkatan balai pustaka karena pada masa
tersebut buku-buku sastra pada umumnya diterbitkan oleh penerbit balai pustaka.
Lahirnya angkatan balai pustaka pada kesusastraan Indonesia dilakukan untuk
mengurangi pengaruh buruk kesusastraan melayu yang dianggap terlalu cabul dan
liar pada masa itu. Pada angkatan balai pustaka ini, karya sastra yang
dipublikasikan oleh penerbit merupakan karya-karya yang amat memelihara
perbahasaannya, berbeda dengan karya sastra lainnya dengan penggunakan bahasa
sehari-hari sebagai bahasa pengantar sastranya dan bahkan tidak jarang di
antara karya sastra tersebut yang masih menggunakan bahasa daerah sebagai
bahasa pengantar sastra yang mereka hasilkan.
Pada angkatan balai pustaka,
kesusastraan Indonesia lebih bercorak Minangkabau. Hal ini terjadi karena
kebanyakan editor yang ada pada masa balai pustaka memang berasal dari Sumatra
Barat. Masa ini adalah masa ketika penulis dan editornya lebih banyak berdarah
Sumatra, maka bisa dibilang angkatan ini lebih banyak menghasilkan karya-karya
kesumatraan. Selain disebut sebagai angkatan balai pustaka, karya-karya yang
lahir pada masa angkatan kesusastraan ini juga disebut dengan angkatan dua puluh.
Titik awal angkatan balai pustaka dimulai ketika terbitnya roman Azab dan
Sengsara oleh Merari Siregar, yang disebut juga sebagai awal kebangkitan
angkatan balai pustaka. Karyanya Azab dan Sengsara memang lebih
banyak menggunakan Bahasa Melayu dibandingkan dengan Bahasa Indonesia, karena
pada masa itu bahasa Indonesia masih mengalami perkembangan. Namun, bukan
berarti karya Merari ini tidak dapat diklasifikasikan sebagai karya sastra
Indonesia, karena prinsip dasar sastra Indonesia adalah karya-karya yang
dijiwai oleh semangat nasionalisme Indonesia.
Karya sastra di Indonesia sejak
tahun 1920 – 1950, yang dipelopori oleh penerbit Balai Pustaka. Prosa (roman,
novel, cerita pendek dan drama) dan puisi mulai menggantikan kedudukan syair,
pantun, gurindam dan hikayat dalam khazanah sastra di Indonesia pada masa ini.
Balai Pustaka didirikan pada masa itu untuk mencegah pengaruh buruk dari bacaan
cabul dan liar yang dihasilkan oleh sastra Melayu Rendah yang banyak menyoroti
kehidupan pernyaian (cabul) dan dianggap memiliki misi politis (liar). Balai
Pustaka menerbitkan karya dalam tiga bahasa yaitu bahasa Melayu-Tinggi, bahasa
Jawa dan bahasa Sunda; dan dalam jumlah terbatas dalam bahasa Bali, bahasa
Batak dan bahasa Madura.
B. Tokoh-tokoh
angkatan Balai Pustaka beserta hasil karyanya
Menurut Rosidi (1986: 37)
tokoh-tokoh yang termasuk dalam angkatan Balai Pustaka diantaranya adalah:
1. Nur Sutan
Iskandar
Lahir di Maninjau tahun
1893
Hasil karyanya:
a.
Karangan
asli
Salah pilih (dikarang dengan nama
samaran Nur Sinah tahun 1928), Karena Mertua (tahun 1932), Hulubalang Raja
(novel sejarah oleh Teeuw dipandang yang terbaik), Katak Hendak Jadi lembu,
Neraka Dunia (1973), Cinta tanah Air (novel yang terbit pada jaman Jepang
tahun1944), Mutiara (1946), Cobaan (1947), Cinta dan Kewajiban (dikarang
bersama dengan I.Wairata).
b.
Karangan
terjemahan
Anjing Setan – A. Canon
Doyle, Gidang Intan Nabi Sulaiman – Rider Haggard, Kasih Beramuk dalam Hati –
Beatrice Harraday, Tiga Panglima Perang - Alexander Dumas, Graaf De Monto
Cristo – Alexander Dumas, Iman dan Pengasihan – H Sien Klewiex, Sepanjang
Gaaris kehidupan – R Casimir.
c.
Karangan
saduran
Pengajaran Di Swedwn – Jan
Lightair, Pengalaman Masa Kecil – Jan Lighard, Pelik-pelik Kehidupan – Jan
Lighard, Si Bakil – Moliere Lavare, Abu Nawas, Jager Bali, Korban Karena
Penciiptaan, Apa Dayaku karena Aku Seoarng Perempuan, Dewi Rimba
d.
Catatan
harian
Ujian Masa (21-7-1947 s/d
1-4-1948)
2. Abdul
Muis
Lahir di Minangkabau
Hasil karyannya : Salah
Asuhan (1928), Pertemuan Jodoh (1933), Suropati (1950) - novel sejarah, Robert
Anak suropati (1953) – novel sejarah, Sebatang Kara (Hector Mallot) – karangan
terjemahan.
3. Marah
Rusli
Lahir di Padang 7 Agustus
1989 dan meninggal di Bandung 17 Januari 1968.
Karya-karyanya: Siti Nurbaya (1922) – Sub judul Kasih Tak Sampai, Anak dan Kemenakan (1956), Memang Jodoh – La Harni (1952).
Karya-karyanya: Siti Nurbaya (1922) – Sub judul Kasih Tak Sampai, Anak dan Kemenakan (1956), Memang Jodoh – La Harni (1952).
4. Aman
Datuk Majaindo
Lahir di Solok pada tahun
1896.
Karya-karyanya: Si Doel
Anak Betawi (cerita anak-anak), Anak Desa (cerita anak-anak), Si Cebol Rindukan
Bulan (1934), Menebus Dosa, Perbuatan Dukun - Rusmala dewi (dikarang bersama S.
Harja Sumarta), Sebabnya Rapiah Tersesat (1934), Syair Si Banso (Gadis Durhaka)
terbit tahun 1931 – Kumpulan Syair, Syair Gul Bakawali (1936) – Kumpulan Syair.
5. Muhammad
Kasim
Lahir tahun 1886
Karya-karyanya :
Pemandangan Dunia Anak-anak, Teman Dukun (kumpulan cerpen), Muda Terung,
Pengeran Hindi, Niki Bahtera.
6. Tulis
Sutan Sati
Hasil karyanya:
ü Karangan
yang berbentuk novel:
Tidak Membalas Guna (1932), Memutuskan Pertalian (1932), Sengsara Membaaw Nikmat (1928).
Tidak Membalas Guna (1932), Memutuskan Pertalian (1932), Sengsara Membaaw Nikmat (1928).
ü Cerita
lama yang disadur dalam bentuk syair:
Siti Marhumah yang Saleh, Syair Rosida.
Siti Marhumah yang Saleh, Syair Rosida.
ü Hikayat
lama yang ditulis kembali dalam bentuk prosa liris:
Sabai Nan Aluih
Sabai Nan Aluih
7. Selasih
dan Sa’adah Alim
Selasih sering memakai
nama samaran Seleguri atau Sinamin. Lahir
tahun 1909
Karya-karyanya: Kalau Tak
Ujung (1933), Pengaruh Keadaan (1973).
Sa’adam Alim
Sa’adam Alim
Karya-karyanya: Pembalasannya
(1941) – sebuah sandiwara, Taman Penghibur Hati (1941) – kumpulan cerpen, Angin
Timur angina Barat (Preal S. Buck) – karya terjemahan.
8. Merari
Siregar
Hasil karyanya: Azab dan
Saengsara (1920)
9. I Gusti
Njoman Pandji Tisna
Karya-karyanya: Ni Rawi
Ceti Penjual Orang (1935), I Swasta Setahun di Bedahulu (1941), Sukreni Gadis
Bali, Dewi Karuna (1938), I Made Widiadi (Kembali Kepada Tuhan)
10. Paulus Supit
Hasil karyanya: Kasih Ibu
(1932)
11. Suman H.S
Lahir di Bengkalis
Karya-karyanya: Kasih Tak
Terlarai (1929), Percobaan Saetia (1931), Mencari Pencuri Anak Perawan (1932),
Kawan Bergelut (1938) – Kumpulan Cerpen.
12. H.S.Muntu
Hasil karyanya: Pembalasan
(1935), Karena Kerendahan Budi (1941)
Authors and works of the Balai Pustaka Generation
|
Azab dan Sengsara (1920)
Binasa
kerna Gadis Priangan (1931)
Sitti
Nurbaya (1922)
La Hami (1924)
Anak dan Kemenakan (1956)
Tanah Air (1922)
Indonesia,
Tumpah Darahku (1928)
Ken Arok dan Ken Dedes (1934)
Cinta yang Membawa Maut (1926)
Salah Pilih (1928)
Karena Mentua (1932)
Tuba
Dibalas dengan Susu (1933)
Hulubalang Raja (1934)
Katak
Hendak Menjadi Lembu (1935)
|
Tak Disangka (1923)
Sengsara Membawa Nikmat (1928)
Tak Membalas Guna (1932)
Memutuskan Pertalian (1932)
Darah
Muda (1927)
Asmara
Jaya (1928)
Pertemuan (1927)
Salah
Asuhan (1928)
Pertemuan
Djodoh (1933)
Menebus Dosa (1932)
Si Cebol Rindukan Bulan (1934)
Sampaikan
Salamku Kepadanya (1935)
|
|
c.
Konsep Pemikiran dan Ciri-ciri
Periode Balai Pustaka
Adapun konsep pemikiran dan ciri-ciri angkatan Balai Pustaka, adalah sebagai
berikut:
1. Agak dinamis.
2. Bercorak pasif-romantik. Ini berarti bahwa cita-cita baru senantiasa terkalahkan oleh adat
lama yang membeku, sehingga merupakan angan-angan belaka. Itulah sebabnya dalam
mencapai cita-citanya, pelaku utama senantiasa kandas, misalnya dimatikan oleh
pengarangnya.
3. Mempergunakan bahasa Melayu baru, yang tetap dihiasi ungkapan-unngkapan klise serta
uraian-uraian panjang.
Menilik bentuknya, kesusastraan angkatan Balai Pustaka ini mempunyai ciri-ciri:
a. Para penyairnya masih banyak yang mempergunakan bentuk-bentuk puisi lama, pantun
dan syair, seperti terlihat pada karya Tulis Sutan Ati, Abas, Sutan Pamunjtak.
b. Bentuk puisi barat yang tidak terlalu terikat oleh syarat-syarat, seperti puisi lama, mulai
dipergunakan oleh para penyair muda. Para penyair baru ini dipelopori oleh Moh. Yamin,
yang mempergunakan bentuk sonata dalam kesusastraan Indonesia.
c. Bentuk prosa yang memegang peranan pada masa kesusastraan angkatan Balai Pustaka
adalah Roman. Roman angkatan ini bertema perjuangan atau perlawanan terhadap adat
istiadat lama, misalnya kawin paksa.
Adapun konsep pemikiran dan ciri-ciri angkatan Balai Pustaka, adalah sebagai
berikut:
1. Agak dinamis.
2. Bercorak pasif-romantik. Ini berarti bahwa cita-cita baru senantiasa terkalahkan oleh adat
lama yang membeku, sehingga merupakan angan-angan belaka. Itulah sebabnya dalam
mencapai cita-citanya, pelaku utama senantiasa kandas, misalnya dimatikan oleh
pengarangnya.
3. Mempergunakan bahasa Melayu baru, yang tetap dihiasi ungkapan-unngkapan klise serta
uraian-uraian panjang.
Menilik bentuknya, kesusastraan angkatan Balai Pustaka ini mempunyai ciri-ciri:
a. Para penyairnya masih banyak yang mempergunakan bentuk-bentuk puisi lama, pantun
dan syair, seperti terlihat pada karya Tulis Sutan Ati, Abas, Sutan Pamunjtak.
b. Bentuk puisi barat yang tidak terlalu terikat oleh syarat-syarat, seperti puisi lama, mulai
dipergunakan oleh para penyair muda. Para penyair baru ini dipelopori oleh Moh. Yamin,
yang mempergunakan bentuk sonata dalam kesusastraan Indonesia.
c. Bentuk prosa yang memegang peranan pada masa kesusastraan angkatan Balai Pustaka
adalah Roman. Roman angkatan ini bertema perjuangan atau perlawanan terhadap adat
istiadat lama, misalnya kawin paksa.
BAB III
KESIMPULAN
Balai Pustaka merupakan suatu angkatan dalam periodisasi
sastra yang terkenal dengan sebutan angkatan pembangkit karena lahir pada masa
kebangkitan sastra Indonesia yaitu pada periode tahun 1920 sampai tahun 1942.
Namun Balai Pustaka juga dikenal sebagai nama sebuah penerbit yang memang
keberadaannya menunjang penerbitan sastra-sastra pada masa itu. Melihat kenyataan tersebut maka karakteristik yang
membedakan sastra angkatan Balai Pustaka dengan sastra angkatan lainnya adalah:
karya-karyannya kebanyakan bertemakan kawin paksa, memuat pertentangan paham
antara kaum tua dengan kaum muda, unsur nasionalitas yang terkandung dalam
karya sastra belum jelasm, peristiwa yang diceritakan hanya merupakan realitas
kehidupan, analisis psikologi dalam karya sastra masih kurang, karya-karya
angkatan Balai Pustaka bersifat didaktis, bahasa yang digunakan adalah bahasa
melayu umum, serta yang paling membedakan sastra angkatan Balai Pustaka dengan
angkatan lainya yaitu genre asil karyanya berupa novel, pantun dan syair.
Angkatan Balai Pustaka bisa disebut
masa dimana proses modernisasi karya-karya sastra terjadi. Dimana tidak lagi
terpaut oleh budaya-budaya melayu yang kental.
Balai Pustaka merupakan suatu angkatan yang sangat berpengaruh kepada perkembangan perpustakaan baru terutama yang tertulis dengan huruf latin (Usman, 1979: 15). Hal itu tercermin dengan pindahnya pusat perhatian orang-orang yang berminat kepada kesusastraan ke Balai Pustaka (Jakarta) yang berpengaruh pada perkembangan bahasa dari bahasa melayu baru (yang banyak dipengaruhi oleh bahasa-bahasa daerah dan bahasa surat kabar) kemudian menjelma menjadi bahasa Indonesia.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa dengan munculnya angkatan Balai
Pustaka maka telah membuka hati para penulis untuk mau memperlihatkan hasil
karyanya yang dulunya menggunakan bahasa daerah kemudian beralih menggunakan
bahasa Indonesia sebagai ungkapan rasa bangga berbangsa Indonesia. Saelain itu,
dengan munculnya angkatan Balai Pustaka maka telah membuka semangat dan
kesadaran para penulis untuk mempersatukan daerah-daerahnya demi keutuhan
bangsa Indonesia. Disisi
lain Balai Pustaka juga dikenal sebagai nama suatu penerbit besar yang berdiri
pada sekitar tahun 1920an yang pada tahun tersebut beriringan dengan munculnya
angkatan Balai Pustaka. Munculnya angkatan Balai Pustaka memang disesuaikan
dengan karya-karya besar yang terkenal pada waktu itu yang sebagian besar
diterbitkan dari penerbit Balai Pustaka Jakarta.
Berbicara mengenai periodisasi sastra khususnya Balai Pustaka
maka tidak menutup kemungkinan kalau meninjau tentang keadaan sosial pada tahun
1920an, dimana menurut Teeuw (1980: 15) pada tahun tersebut merupakan tahun
lahirnya kesusastraan Indonesia modern. Pada waktu itu para pemuda indonesia
mulai menyatakan perasaan dan ide yang berbeda dengan masyarakat setempat.
Perasan itu dituangkan dalam bentuk sastra namun menyimpang dari bentuk sastra
melayu, jawa, dan sastra-sastra lain sebelumnya.
Melihat kenyataan tersebut, khususnya menyangkut tentang
pengkajian masalah karakteristik sastra angkatan Balai Pustaka sepengetahuan
penulis belum pernah dilakukan. Maka penulis ingin menganalisis dengan tujuan
untuk mengetahui lebih dalam tentang angkatan Balai Pustaka yang mencakup
tokoh, karakteristik, dan hasil karyanya.
DAFTAR PUSTAKA
o
Bezemer
1921
T. J. Bezemer, Beknopte Encyclopædie van
Nederlands-Indië, Leiden/'s-Gravenhage/Batavia: Brill/Martinus Nijhoff/Kolff.
(In Dutch; "A Concise Encyclopaedia of the Netherlands East Indies".)
o Bezemer
1943
T. J. Bezemer, Vier eeuwen Maleische literatuur in
vogelvlucht, Deventer: W. van Hoeve. (In Dutch; "Four Centuries of Malay
Literature: A Bird's Eye View".)
o Braasem
1949
W. A. Braasem, “Uit dromenland
naar stof en zweet. Moderne Indonesische poëzie”, in: Indonesië.
Tweemaandelijks tijdschrift gewijd aan het Indonesisch
cultuurgebied 1949(3)-2(September) pp. 151-77. (In Dutch; "From the
Realm of Dreams to Dust and Sweat. Modern Indonesian Poetry".)
o Pigeaud
1949
Th. Pigeaud, "Bibliografie in Indonesië",
in: Indonesië. Tweemaandelijks tijdschrift gewijd aan het Indonesisch
cultuurgebied 1949(3)-2(September) pp. 124-29. (In Dutch;
"Bibliography in Indonesia".)
o Poerwadarminta,
W.J.S. 1984. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: PN Balai Pustaka.
o Rosisdi,
Ajip. 1986. Ikhtisar Sejarah Sejarah Sastra Indonesia. Yogyakarta: Kurnia Kalam
Semesta.
o Sarwadi.
1999. Sejarah Sastra Indonesia Modern. Yogyakarta: Kurrnia Kalam Semesta.
o Teeuw, A.
1980. Sastra Baru Indonesia. Flores: Nusa Indah Arnoldus.
o Teeuw, A.
2002. Sastra dan Ilmu Sastra. Yoyakarta: Universitas Negeri Yoyakarta.
o Usman,
Zuber. 1979. Kesusastraan Baru Indonesia. Jakarta: Gunung Agung.

Komentar
Posting Komentar