Makalah Kurikulum 2013
BAB I
PENDAHULUAN
- Latar Belakang
Kurikulum
memegang kedudukan kunci dalam pendidikan, sebab berkaitan dengan penentuan
arah, isi dan proses pendidikan, yang pada akhirnya menentukan macam dan
kualifikasi lulusan suatu lembaga pendidikan. Kurikulum menyangkut rencana dan
pelaksanaan pendidikan baik dalam lingkup kelas, sekolah, daerah, wilayah
maupun nasional. Semua pendidikan berkepentingan dengan kurikulum, sebab
kurikulum mempunyai andil yang cukup besar dalam melahirkan dan mengharapkan
tumbuh dan berkembangnya anak generasi muda yang lebih baik, lebih cerdas dan
lebih berkemampuan.
Kurikulum mempunyai kedudukan sentral dalam seluruh proses pendidikan. Kurikulum mengarahkan segala bentuk aktivitas pendidikan demi tercapainya tujuan-tujuan pendidikan. Kurikulum juga merupakan suatu rencana pendidikan, serta proses pendidikan. Kemampuan seorang guru diuji dalam bentuk perbuatan yang akan mewujudkan bentuk kurikulum yang nyata dan hidup yang diterapkan di dalam kelas. Disana semua konsep, prinsip, nilai, pengetahuan, metode, alat dan kemampuan guru diuji. Perwujudan konsep, prinsip, dan aspek-aspek kurikulum tersebut seluruhnya terletak pada guru. Oleh karena itu, gurulah pemegang kunci pelaksanaan dan keberhasilan kurikulum.
Sebagai alat penting dalam upaya pencapaian tujuan pendidikan, kurikulum hendaknya berperan dan bersifat anticipatory dan adaptif terhadap perubahan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kurikulum tidak boleh statis. Oleh karena itu, wajar jika kurikulum selalu berubah dan berkembang sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedang terjadi. Pendapat sebagian masyarakat yang menyatakan “Ganti Menteri, Ganti Kurikulum” hanyalah disebabkan karena mereka tidak memahami alasan mendasar terjadinya pergantian tersebut. Kalau kita ingin pendidikan maju, kita harus menerima perubahan, karena pada dasarnya yang kekal hanyalah perubahan.
Pengembangan kurikulum merupakan bagian yang esensial dalam proses pendidikan. Sasaran yang ingin dicapai dalam pengembangan kurikulum lebih dititikberatkan pada upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Dalam Pengembangan Kurikulum, seorang pengembang kurikulum biasanya menggunakan beberapa prinsip yang dipegangnya sebagai acuan agar kurikulum yang duhasilkan itu memenuhi harapan siswa, pihak sekolah, orang tua, masyarakat pengguna, dan tentunya pemerintah. Prinsip-prinsip yang akan digunakan dalam kegiatan pengembangan kurikulum pada dasarnya merupakan kaidah-kaidah atau hukum yang akan menjiwai suatu kurikulum. Dalam pengembangan kurikulum, dapat menggunakan prinsip-prinsip yang telah berkembang dalam kehidupan sehari-hari atau justru menciptakan sendiri prinsip-prinsip baru. Oleh karena itu, dalam implementasi kurikulum di suatu lembaga pendidikan sangat mungkin terjadi penggunaan prinsip-prinsip yang berbeda dengan kurikulum yang digunakan di lembaga pendidikan lainnya, sehingga akan ditemukan banyak sekali prinsip-prinsip yang digunakan dalam suatu pengembangan kurikulum
Kurikulum mempunyai kedudukan sentral dalam seluruh proses pendidikan. Kurikulum mengarahkan segala bentuk aktivitas pendidikan demi tercapainya tujuan-tujuan pendidikan. Kurikulum juga merupakan suatu rencana pendidikan, serta proses pendidikan. Kemampuan seorang guru diuji dalam bentuk perbuatan yang akan mewujudkan bentuk kurikulum yang nyata dan hidup yang diterapkan di dalam kelas. Disana semua konsep, prinsip, nilai, pengetahuan, metode, alat dan kemampuan guru diuji. Perwujudan konsep, prinsip, dan aspek-aspek kurikulum tersebut seluruhnya terletak pada guru. Oleh karena itu, gurulah pemegang kunci pelaksanaan dan keberhasilan kurikulum.
Sebagai alat penting dalam upaya pencapaian tujuan pendidikan, kurikulum hendaknya berperan dan bersifat anticipatory dan adaptif terhadap perubahan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kurikulum tidak boleh statis. Oleh karena itu, wajar jika kurikulum selalu berubah dan berkembang sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedang terjadi. Pendapat sebagian masyarakat yang menyatakan “Ganti Menteri, Ganti Kurikulum” hanyalah disebabkan karena mereka tidak memahami alasan mendasar terjadinya pergantian tersebut. Kalau kita ingin pendidikan maju, kita harus menerima perubahan, karena pada dasarnya yang kekal hanyalah perubahan.
Pengembangan kurikulum merupakan bagian yang esensial dalam proses pendidikan. Sasaran yang ingin dicapai dalam pengembangan kurikulum lebih dititikberatkan pada upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Dalam Pengembangan Kurikulum, seorang pengembang kurikulum biasanya menggunakan beberapa prinsip yang dipegangnya sebagai acuan agar kurikulum yang duhasilkan itu memenuhi harapan siswa, pihak sekolah, orang tua, masyarakat pengguna, dan tentunya pemerintah. Prinsip-prinsip yang akan digunakan dalam kegiatan pengembangan kurikulum pada dasarnya merupakan kaidah-kaidah atau hukum yang akan menjiwai suatu kurikulum. Dalam pengembangan kurikulum, dapat menggunakan prinsip-prinsip yang telah berkembang dalam kehidupan sehari-hari atau justru menciptakan sendiri prinsip-prinsip baru. Oleh karena itu, dalam implementasi kurikulum di suatu lembaga pendidikan sangat mungkin terjadi penggunaan prinsip-prinsip yang berbeda dengan kurikulum yang digunakan di lembaga pendidikan lainnya, sehingga akan ditemukan banyak sekali prinsip-prinsip yang digunakan dalam suatu pengembangan kurikulum
BAB II
PEMBAHASAN
A. Prinsip-prinsip
kurikulum
Kurikulum
merupakan rancangan pendidikan yang merangkum semua pengalaman belajar yang
disediakan bagi siswa di sekolah. Kurikulum disusun oleh para ahli
pendidikan/ ahli kurikulum, ahli bidang ilmu, pendidikan, pejabat pendidikan,
pengusaha serta unsur-unsur masyarakat lainnya. Rancangan ini disusun dengan
maksud memberi pedoman kepada para pelaksana pendidikan, dalam proses
pembimbingan perkembangan siswa, mencapai tujuan yang dicita-citakan oleh siswa
sendiri, keluarga maupun masyarakat.
Kurikulum
merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan yang dinamis. Hal ini berarti
bahwa kurikulum harus selalu dikembangkan dan disempurnakan agar sesuai dengan
laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta masyarakat yang sedang
membangun. Pengembangan kurikulum harus didasarkan pada prinsip-prinsip
pengembangan yang berlaku. Hal ini dimaksudkan agar hasil pengembangan
kurikulum tersebut sesuai dengan minat, bakat, kebutuhan peserta didik,
lingkungan, kebutuhan daerah sehingga dapat memperlancar pelaksanaan proses
pendidikan dalam rangka perwujudan atau pencapaian tujuan pendidikan nasional.
Nana
Syaodih Sukmadinata (1997) mengelompokkan prinsip-prinsip pengembangan
kurikulum ke dalam dua bagian yaitu :
- Prinsip-Prinsip Umum
a.
Prinsip Relevansi
Relevansi Keluar (Eksternal), yaitu
tujuan, isi, dan proses belajar yang tercakup dalam kurikulum itu sendiri.
Maksudnya tujuan, isi, dan proses belajar yang tercakup dalam kurikulum
hendaknya relevan dengan tuntutan kebutuhan dan perkembangan masyarakat, yang
menyiapkan siswa untuk bisa hidup dan bekerja dalam masyarakat. Isi kurikulum
mempersiapkan siswa sekarang dan siswa yang akan datang untuk tugas yang ada
dalam perkembangan masyarakat.
Relevansi Didalam (Internal), yaitu
adanya kesesuaian atau kosistensi antara komponen-komponen kurikulum yaitu
antara tujuan, isi proses penyampaian dan penilaian. Relevansi ini menunjukkan
suatu keterpaduan kurikulum.
b. Prinsip Fleksibilitas
Fleksibilitas sebagai salah satu
prinsip pengembangan kurikulum dimaksudkan adanya ruang gerak yang memberikan
sedikit kelonggaran dalam melakukan atau mengambil suatu keputusan tentang
suatu kegiatan yang akan dilaksanakan oleh pelaksana kurikulum di lapangan.
Kurikulum juga hendaknya memiliki sifat lentur atau fleksibel. Kurikulum
mempersiapkan anak untuk kehidupan sekarang dan yang akan datang, di sini dan
ditempat lain, bagi anak yang memiliki latar belakang dan kemampuan yang
berbeda. Suatu kurikulum yang baik adalah kurikulum yang berisi hal-hal yang
solid, tetapi dalam pelaksanaannya mungkin terjadinya penyesuaian-penyesuaian
berdasarkan kondisi daerah, waktu maupun kemampuan, dan latar belakang anak.
c.
Prinsip Kontinuitas (Kesinambungan)
Perkembangan dan proses belajar anak
berlangsung secara berkesinambungan, tidak terputus-putus atau
berhenti-berhenti. Oleh karena itu, pengalaman-pengalaman belajar yang
disediakan kurikulum juga hendaknya berkesinambungan antara satu tingkat kelas,
dengan kelas lainnya, antara satu jenjang pendidikan dengan jenjang lainnya,
juga antara jenjang pendidikan dengan pekerjaan. Pengembangan kurikulum perlu
dilakukan serempak bersama-sama, perlu selalu ada komunikasi dan kerja sama
antara para pengembangan kurikulum sekolah dasar dengan SMp, SMA, dan Perguruan
Tinggi.
d. Prinsip Praktis
Kurikulum harus praktis, mudah
dilaksanakan, menggunakan alat-alat sederhana dan biayanya juga murah. dan
efisien.. Walaupun bagus dan idealnya suatu kurikulum kalau menuntut
keahlian-keahlian dan peralatan-peralatan yang sangat khusus dan mahal biayanya
maka kurikulum tersebut tidak praktis dan sukar dilaksanakan. Kurikulum dan
pendidikan selalu dilaksanakan dalam keterbatasan-keterbatasan , baik
keterbatasan waktu, biaya, alat, maupun personalia. Kurikulum bukan hanya harus
ideal tetapi juga praktis.
e.
Prinsip Efektivitas
Walaupun kurikulum tersebut harus
murah dan sederhana tetapi keberhasilannya tetap harus diperhatikan.
Keberhasilan pelaksanaan kurikulum ini baik secara kuantitas maupun kualitas.
Pengembangan suatu kurikulum tidak dapat dilepaskan dan merupakan penjabaran
dari perencanaan pendidikan. Perencanaan dibidang pendidikan juga merupakan
bagian yang dijabarkan dari kebijaksanaan-kebijaksanaan pemerintah dibidang
pendidikan. Keberhasilan kurikulum akan mempengaruhi keberhasilan pendidikan.
Kurikulum pada dasarnya berintikan
empat aspek utama yaitu:
a. Tujuan-tujuan pendidikan.
b. Isi Pendidikan
c. Pengalaman belajar
d. Penilaian
a. Tujuan-tujuan pendidikan.
b. Isi Pendidikan
c. Pengalaman belajar
d. Penilaian
Keempat aspek diatas serta
kebijaksanaan pendidikan perlu selalu mendapat perhatian dalam pengembangan
kurikulum.
- Prinsip-Prinsip Khusus
a.
Prinsip berkenaan dengan tujuan
pendidikan
Tujuan merupakan pusat kegiatan dan
arah semua kegiatan pendidikan. Perumusan kompenen-kompenen kurikulum hendaknya
mengacu pada tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan mencakup tujuan yang bersifat
umum atau berjangka panjang, jangka menengah dan jangka pendek. Perumusan
tujuan pendidikan bersumber pada :
Ketentuan dan kebijaksanaan
pemerintah, yang dapat ditemukan dalam dokumen-dokumen lembaga negara mengenai
tujuan, dan strategi pembangunan termasuk didalamnya pendidikan.
Survai mengenai persepsi orang tua/
masyarakat tentang kebutuhan mereka yang dikirimkan melalui angket atau
wawancara dengan mereka.
Survei tentang pandangan para ahli
dalam bidang-bidang tertentu, dihimpun melalui angket, wawancara, observasi,
dan dari berbagai media massa.
Survai tentang manpower.
Pengalaman negara-negara lain dalam
masalah yang sama.
Penelitian
b. Prinsip berkenaan dengan pemilihan
isi pendidikan
Memilih
isi pendidikan yang sesuai dengan keutuhan pendidikan yang telah ditentukan
para perencana kurikulum perlu mempertimbangkan beberapa hal yaitu:
Perlu penjabaran tujuan pendidikan/
pengajaran kedalam bentuk perbuatan hasil belajar yang khusus dan sederhana.
Makin umum suatu perbuatan hasil belajar dirumuskan semakin sulit menciptakan
pengalaman belajar
Isi bahan pelajaran harus meliputi
segi pengetahuan, sikap, dan ketrampilan.
Unit-unit kurikulum harus disusun
dalam urutan yang logis dan sistematis. Pengetahuan, sikap dan ketrampilan
diberikan secara simultan dalam urutan situasi belajar.
c.
Prinsip berkenaan dengan pemilihan
proses belajar mengajar
Sedangkan
Asep Herry Hernawan dkk (2002) mengemukakan lima prinsip dalam pengembangan
kurikulum, yaitu :
1. Prinsip Relevansi
Secara
internal bahwa kurikulum memiliki relevansi di antara komponen-komponen
kurikulum (tujuan, bahan, strategi, organisasi dan evaluasi).
Sedangkan
secara eksternal bahwa komponen-komponen tersebutmemiliki relevansi dengan
tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi (relevansi epistomologis), tuntutan dan
potensi peserta didik (relevansi psikologis) serta tuntutan dan kebutuhan
perkembangan masyarakat (relevansi sosilogis).
2. Prinsip Fleksibilitas
Dalam
pengembangan kurikulum mengusahakan agar yang dihasilkan memiliki sifat luwes,
lentur dan fleksibel dalam pelaksanaannya, memungkinkan terjadinya
penyesuaian-penyesuaian berdasarkan situasi dan kondisi tempat dan waktu yang
selalu berkembang, serta kemampuan dan latar bekang peserta didik.
3. Prinsip Kontinuitas
Adanya
kesinambungandalam kurikulum, baik secara vertikal, maupun secara horizontal.
Pengalaman-pengalaman belajar yang disediakan kurikulum harus memperhatikan
kesinambungan, baik yang di dalam tingkat kelas, antar jenjang pendidikan,
maupun antara jenjang pendidikan dengan jenis pekerjaan.
4. Efektifitas
Mengusahakan
agar kegiatan pengembangan kurikulum mencapai tujuan tanpa kegiatan yang
mubazir, baik secara kualitas maupun kuantitas.
5. Efisiensi
Mengusahakan
agar dalam pengembangan kurikulum dapat mendayagunakan waktu, biaya, dan
sumber-sumber lain yang ada secara optimal, cermat dan tepat sehingga hasilnya
memadai.
Selain
prinsip-prinsip yang dikemukakan oleh para ahli diatas diatas, dibawah ini juga
diuraikan sejumlah prinsip yang dianggap penting dan menjadi pedoman pada saat
ini pada umumnya.
1. Prinsip Relevansi
Kurikulum
merupakan rel-nya pendidikan untuk membawa siswa agar dapat hidup sesuai dengan
nilai-nilai yang ada di masyarakat serta membekali siswa baik dalam bidang
pengetahuan, sikap maupun keterampilan sesuai dengan tuntutan dan harapa
masyarakat. Oleh sebab itu, pengalaman-pengalaman belajar yang disusun dalam
kurikulum harus relevan dengan kebutuhan masyarakat.
a.
Relevansi Internal
Relevansi internal adalah bahwa
setiap kurikulum harus memiliki keserasian antara komponen-komponennya, yaitu
keserasian yang harus dicapai, isi, materi atau pengalaman belajar yang harus
dimiliki siswa, strategi atau metode yang digunakan serta alat penilaian untuk
melihat ketercapaian tujuan. Relevansi ini menunjukkan keutuhan suatu
kurikulum.
b. Relevansi Eksternal
Relevansi Eksternal, berkaitan
dengan keserasian antara tujuan, isi dan proses belajar siswa yang tercakup
dalam kurikulum dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat. Ada tiga macam
relevansi eksternal yaitu :
Relevan dengan lingkungan hidup
peserta didik. Artinya, bahwa proses pengembangan dan penetapan isi kurikulum
hendaknya disesuaikan dengan kondisi lingkungan sekitar siswa. Contohnya untuk
siswa yang ada di perkotaan perlu diperkenalkan kehidupan di lingkungan kota,
seperti keramaian dan rambu-rambu lalu lintas, tata cara dan pelayan jasa bank,
kantor pos dsb. Begitu juga untuk sekolah yang berada di lingkungan pantai,
seperti mengenai tambak, kehidupan nelayan, koperasi, pembibitan udang, dsb.
Relevan dengan perkembangan zaman
baik sekarang maupun dengan yang akan datang. Artinya, isi kurikulum harus
sesuai dengan situasi dan kondisi yang sedang berkembang. Selain itu juga apa
yang diajarkan kepada siswa harus bermanfaat untuk kehidupan siswa pada waktu
yang akan datang. Misalkan untuk kehidupan yang akan datang, penggunaan computer
dan internet menjadi salah satu kebutuhan, maka dengan demikian bagaimana cara
memanfaatkan computer dan bagaimana cara mendapatkan informasi dari internet
sudah harus diperkenalkan kepada siswa. Demikian juga dengan kemapuan
berbahasa. Pada masa yang akan datang ketika pasar bebas seperti persetujuan
APEC mulai berlaku, maka masyarakat akan dihadapkan kepada persaingan merebut
pasar kerja dengan orang-orang asing. Oleh karenanya keterampilan berbahasa
asing sudah harus mulai dipupuk sejak sekarang.
Relevan dengan tuntutan dunia
pekerjaan. Artinya, bahwa apa yang diajarkan di sekolah harus mampu memenuhi
dunia kerja. Untuk sekolah kejuruan contohnya, kalau dahulu di Sekolah Kejuruan
Ekonomi dilatih bagaimana agar siswa mampu menggunakan mesin tik sudah tidak
banyak digunakan, akan tetapi yang lebih banyak digunakan computer. Dengan
demikian, keterampilan mengoperasikan computer harus diajarkan. Demikian
jugahalnya dengan tuntutan dunia kerja kepariwisataan, perbankan, asuransi,
perhotelan dsb, isi kurikulum harus menyesuaikan dengan tuntutan pekerjaan
pekerjaan di setiap bidang.
2. Prinsip Fleksibilitas
Apa yang diharapkan dalam kurikulum
ideal kadan-kadang tidak sesuai dengan kondisi kenyataanyang ada. Bisa saja
ketiksesuaian itu ditunjukkan oleh kemampuan guru yang kurang,latar belakang
atau kemampuan dasar siswa yang rendah, atau mungkin sarana dan prasarana yang
ada di sekolah tidak memadai. Maka kurikulum harus bersifat lentur dan
fleksibel. Artinya, kurikulum itu harus bisa dilaksanakan sesuai dengan kondisi
yang ada. Kurikulum yang kaku atau tidak fleksibel akan sulit diterapkan.
Prinsip fleksibilitas memiliki dua
sisi :
a.
Fleksibel bagi guru, artinya
kurikulum harus memberikan ruang gerak bagu guru untuk mengembangkan program
pengajarannya sesuai dengan kondisi yang ada.
b. Fleksibel bagi siswa, artinya
kurikulum harus menyediakan berbagai kemungkinan program pilihan sesuai dengan
bakat dan minat siswa.
3. Prinsip Kontinuitas
Prinsip ini mengandung pengertian
bahwa perlu dijaga saling keterkaitan dan kesinambungan antara materi pelajaran
pada berbagai jenjang dan jenis program pendidikan. Dalam penyusunan materi
pelajaran perlu dijaga agar apa yang diperlukan untuk mempelajari suatu materi
pelajaran pada jenjang yang lebih tinggi telah diberikan dan dikuasai oleh
siswa pada waktu mereka berada pada jenjang sebelumnya.prinsip ini sangat
penting bukan hanya untuk menjaga agar tidak terjadi pengulangan-pengulangan
materi pelajaran yang memungkinkan program pengajaran tidak efektif dan
efisien, akan tetapi juga untuk keberhasilan siswa dalam menguasai materi
pelajaran pada jenjang pendidikan tertentu.
4. Efektifitas
Prinsip efektifitas berkenaan dengan
rencana dalam suatu kurikulum dapat dilaksanakan dan dapat dicapai dalam
kegiatan belajar mengajar. Terdapat dua sisi efektifitas dalam suatu
pengembangan kurikulum yaitu :
Efektifitas berhubungan dengan
kegiatan guru dalam melaksanakan tugas mengimplementasikan kurikulum di dalam
kelas. Contoh, apabila guru menetapkan dalam satu senmester harus menyelesaikan
12 program pembelajaran sesuai dengan pedoman kurikulum, ternyata dalam jangka
waktu tersebut hanya dapat menyelesaikan 4 atau 5 program saja, berarti dapat dikatakan
bahwa pelaksanaan program itu tidak efektif.
Efektifitas kegiatan siswa dalam
melaksanakan kegiatan belajar. Maksudnya sejauh mana siswa dapat mencapai
tujuan yang telah ditentukan sesuai dengan jangka waktu tertentu. Contoh,
apabila ditetapkan dalam satu semester siswa harus dapat mencapai sejumlah
tujuan pembelajaran, ternyata hanya sebagian saja dapat dicapai siswa, maka
dapat dikatakan bahwa proses pembelejaran siswa tidak efektif.
5. Efisiensi
Prinsip efisiensi berhubungan dengan
pernbandingan antara tenaga, waktu, suara, dan biaya yang dikeluarkan dengan
hasil yang diperoleh. Kurikulum dikatakan memiliki tingkat efisiensi yang
tinggi apabila dengan sarana, biaya yang minimal dan waktu yang terbatas dapat
memperoleh hasil yang maksimal. Betapa pun bagus dan idealnya suatu kurikulum,
manakala menuntut peralatan, sarana dan prasarana yang sangat khusus serta
mahal pula harganya, maka kurikulum itu tidak praktis dan sukar untuk
dilaksanakan. Kurikulum harus dirancang untuk dapat digunakan dalam segala
keterbatasan.
Pengembangan
kurikulum sekolah di Indonesia mengikuti prinsip-prinsip pengembangan kurikulum
yang berbeda, namun sasaran yang hendak dicapai adalah sama , yaitu dalam
rangka mewujudkan cita-cita pembangunan nasional pada umumnya dan tujuan
pendidikan nasional pada khususnya dengan berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Pengembangan kurikulum yang pernah diterapkan di Indonesia antara lain:
Pengembangan kurikulum yang pernah diterapkan di Indonesia antara lain:
Kurikulum
1975; mengacu pada prinsip pengembangan:
- Fleksibelitas,
- Efesiensi dan efektivitas,
- Berorientasi pada tujuan,
- Kontinuitas,
- Pendidikan seumur hidup,
- Fleksibelitas,
- Efesiensi dan efektivitas,
- Berorientasi pada tujuan,
- Kontinuitas,
- Pendidikan seumur hidup,
Kurikulum
1984; mengacu pada prinsip:
- Relevansi,
- Pendekatan pengembangan,
- Pendidikan seumur hidup,
- Keluwesan.
- Relevansi,
- Pendekatan pengembangan,
- Pendidikan seumur hidup,
- Keluwesan.
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
(KTSP); mengacu pada:
- Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya
- Beragam dan terpadu,
- Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni,
- Relevan dengan kebutuhan kehidupan,
- Menyeluruh dan berkesinambungan,
- Belajar sepanjang hayat,
- Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah,
- Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya
- Beragam dan terpadu,
- Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni,
- Relevan dengan kebutuhan kehidupan,
- Menyeluruh dan berkesinambungan,
- Belajar sepanjang hayat,
- Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah,
B. PELAKSANAAN
PEMBELAJARAN KURIKULUM 2013
Pelaksanaan pembelajaran pada pelaksanaan kurikulum 2013 memiliki
karakteristik yang berbeda dari pelaksanaan kurikulum 2006. Berdasarkan hasil
analisis terhadap kondisi yang diharapkan terdapat maka dipeloleh 14 prinsip
utama pembelajaran yang perlu guru terapkan.
Ada pun 14 prinsip itu adalah:
- Dari siswa diberi tahu menuju siswa mencari tahu; pembelajaran mendorong siswa menjadi pembelajar aktif, pada awal pembelajaran guru tidak berusaha untuk meberitahu siswa karena itu materi pembelajaran tidak disajikan dalam bentuk final. Pada awal pembelajaran guru membangkitkan rasa ingin tahu siswa terhadap suatu fenomena atau fakta lalu mereka merumuskan ketidaktahuannya dalam bentuk pertanyaan. Jika biasanya kegiatan pembelajaran dimulai dengan penyampaian informasi dari guru sebagai sumber belajar, maka dalam pelaksanaan kurikulum 2013 kegiatan inti dimulai dengan siswa mengamati fenomena atau fakta tertentu. Oleh karena itu guru selalu memulai dengan menyajikan alat bantu pembelajaran untuk mengembangkan rasa ingin tahu siswa dan dengan alat bantu itu guru membangkitkan rasa ingin tahu siswa dengan bertanya.
- Dari guru sebagai satu-satunya sumber belajar menjadi belajar berbasis aneka sumber; pembelajaran berbasis sistem lingkungan. Dalam kegiatan pembelajaran membuka peluang kepada siswa sumber belajar seperti informasi dari buku siswa, internet, koran, majalah, referensi dari perpustakaan yang telah disiapkan. Pada metode proyek, pemecahan masalah, atau inkuiri siswa dapat memanfaatkan sumber belajar di luar kelas. Dianjurkan pula untuk materi tertentu siswa memanfaatkan sumber belajar di sekitar lingkungan masyarakat. Tentu dengan pendekatan ini pembelajaran tidak cukup dengan pelaksanaan tatap muka dalam kelas.
- Dari pendekatan tekstual menuju proses sebagai penguatan penggunaan pendekatan ilmiah; pergeseran ini membuat guru tidak hanya menggunakan sumber belajar tertulis sebagai satu-satunya sumber belajar siswa dan hasil belajar siswa hanya dalam bentuk teks. Hasil belajar dapat diperluas dalam bentuk teks, disain program, mind maping, gambar, diagram, tabel, kemampuan berkomunikasi, kemampuan mempraktikan sesuatu yang dapat dilihat dari lisannya, tulisannya, geraknya, atau karyanya.
- Dari pembelajaran berbasis konten menuju pembelajaran berbasis kompetensi; pembelajaran tidak hanya dilihat dari hasil belajar, tetapi dari aktivitas dalam proses belajar. Yang dikembangkan dan dinilai adalah sikap, pengetahuan, dan keterampilannya.
- Dari pembelajaran parsial menuju pembelajaran terpadu; mata pelajaran dalam pelaksanaan kurikulum 2013 menjadi komponen sistem yang terpadu. Semua materi pelajaran perlu diletakkan dalam sistem yang terpadu untuk menghasilkan kompetensi lulusan. Oleh karena itu guru perlu merancang pembelajaran bersama-sama, menentukan karya siswa bersama-sama, serta menentukan karya utama pada tiap mata pelajaran bersama-sama, agar beban belajar siswa dapat diatur sehingga tugas yang banyak, aktivitas yang banyak, serta penggunaan waktu yang banyak tidak menjadi beban belajar berlebih yang kontraproduktif terhadap perkembangan siswa.
- Dari pembelajaran yang menekankan jawaban tunggal menuju pembelajaran dengan jawaban yang kebenarannya multi dimensi; di sini siswa belajar menerima kebenaran tidak tunggul. Siswa melihat awan yang sama di sebuah kabupaten. Mereka akan melihatnya dari tempatnya berpijak. Jika ada sejumlah siswa yang melukiskan awan pada jam yang sama dari tempat yangberjauhan, mereka akan melukiskannya berbeda-beda, semua benar tentang awan itu, benar menjadi beragam.
- Dari pembelajaran verbalisme menuju keterampilan aplikatif; pada waktu lalu pembelajaran berlangsung ceramah. Segala sesuatu diungkapkan dalam bentuk lisan guru, fakta disajikan dalam bentuk informasi verbal, sekarang siswa harus lihat faktanya, gambarnya, videonya, diagaramnya, teksnya yang membuat siswa melihat, meraba, merasa dengan panca indranya. Siswa belajar tidak hanya dengan mendengar, namun dengan menggunakan panca indra lainnya.
- Peningkatan dan keseimbangan antara keterampilan fisikal (hardskills) dan keterampilan mental (softskills); hasil belajar pada rapot tidak hanya melaporkan angka dalam bentuk pengetahuannya, tetapi menyajikan informasi menyangku perkembangan sikapnya dan keterampilannya. Keterampilan yang dimaksud bisa keterampilan membacan, menulis, berbicara, mendengar yang mencerminkan keterampilan berpikirnya. Keterampilan bisa juga dalam bentuk aktivitas dalam menghasilkan karya, sampai pada keterampilan berkomunikasi yang santun, keterampilan menghargai pendapat dan yang lainnya.
- Pembelajaran yang mengutamakan pembudayaan dan pemberdayaan siswa sebagai pembelajar sepanjang hayat; ini memerlukan guru untuk mengembangkan pembiasaan sejak dini untuk melaksanakan norma yang baik sesuai dengan budaya masyarakat setempat, dalam ruang lingkup yang lebih luas siswa perlu mengembangkan kecakapan berpikir, bertindak, berbudi sebagai bangsa, bahkan memiliki kemampuan untuk menyesusaikan dengan dengan kebutuhan beradaptasi pada lingkungan global. Kebiasaan membaca, menulis, menggunakan teknologi, bicara yang santun merupakan aktivitas yang tidak hanya diperlukan dalam budaya lokal, namun bermanfaat untuk berkompetisi dalam ruang lingkup global.
- 10. Pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai dengan memberi keteladanan (ing ngarso sung tulodo), membangun kemauan (ing madyo mangun karso), dan mengembangkan kreativitas siswa dalam proses pembelajaran (tut wuri handayani); di sini guru perlu menempatkan diri sebagai fasilitator yang dapat menjadi teladan, meberi contoh bagaimana hidup selalu belajar, hidup patuh menjalankan agama dan prilaku baik lain. Guru di depan jadi teladan, di tengah siswa menjadi teman belajar, di belakang selalu mendorong semangat siswa tumbuh mengembangkan pontensi dirinya secara optimal.
- Pembelajaran berlangsung di rumah, di sekolah, dan di masyarakat; karena itu pembelajaran dalam kurikulum 2013 memerlukan waktu yang lebih banyak dan memanfaatkan ruang dan waktu secara integratif. Pembelajaran tidak hanya memanfaatkan waktu dalam kelas.
- Pembelajaran menerapkan prinsip bahwa siapa saja adalah guru, siapa saja adalah siswa, dan di mana saja adalah kelas. Prinsip ini menadakan bahwa ruang belajar siswa tidak hanya dibatasi dengan dinding ruang kelas. Sekolah dan lingkungan sekitar adalah kelas besar untuk siswa belajar. Lingkungan sekolah sebagai ruang belajar yang sangat ideal untuk mengembangkan kompetensi siswa. Oleh karena itu pembelajaran hendaknya dapat mengembangkan sistem yang terbuka.
- Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (tIK) untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran; di sini sekolah perlu meningkatkan daya guru dan siswa untuk memanfaatkan TIK. Jika guru belum memiliki kapasitas yang mumpuni siswa dapat belajar dari siapa pun. Yang paling penting mereka harus dapat menguasai TIK sebabab mendapatkan pelajaran dengan dukungan TIK atau tidak siswa tetap akan menghadapi tantangan dalam hidupnya menjadi pengguna TIK. Jika sekolah tidak memfasilitasi pasti daya kompetisi siswa akan jomplang daripada siswa yang memeroleh pelajaran menggunakannya.
- Pengakuan atas perbedaan individual dan latar belakang budaya siswa; cita-cita, latar belakang keluarga, cara mendapat pendidikan di rumah, cara pandang, cara belajar, cara berpikir, keyakinan siswa berbeda-beda. Oleh karena itu pembelajaran harus melihat perbedaan itu sebagai kekayaan yang potensial dan indah jika dikembangkan menjadi kesatuan yang memiliki unsur keragaman. Hargai semua siswa, kembangkan kolaborasi, dan biarkan siswa tumbuh menurut potensinya masing-masing dalam kolobarasi kelompoknya.
Demikian materi tentang prinsip
pembelajaran yang disarikan dari materi pelatihan implementasi kurikulum 2013.
BAB III
PENUTUP
SARAN
Kami sebagai penyusun menyadari
bahwa dalam penulisan makalah ini termasuk jauh dari sempurna. Oleh karena itu,
kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari para pembaca.
Semoga makalah ini dapat member manfaat kepada kami dan pembaca pada umumnya.
DAFTAR PUSTAKA
Hernawan, Asep Herry, dkk. 2010. Pengembangan
Kurikulum dan Pengembangan. Jakarta : Universitas
Terbuka.
Depdiknas. 2008. Kurikulum dan
Pembelajaran. Jakarta : BP. Dharma Bakti.

Komentar
Posting Komentar